Selasa, 10 Maret 2015

Cerpen - Hujan Sebagai Saksi



                Sore ini, terlihat disana langit mendung menyelimuti bumi, terasa dingin... cukup menusuk sampai ke tulang rusuk. Terdengar pula gemuruh guntur menderu, hingga mampu membuat rintik menjadi hujan yang berangsur turun ke bumi. Ya, hujan itu mampu membuat basah dedaunan dan rerumputan, hingga Alang-alang pun tak mampu lagi berdiri. Dia hanya dapat merunduk, menerima kenyataan yang saat ini di hadapi. Seperti aku, yang hanya mampu menerima apapun semua yang diberikan-Nya dan yang digariskan-Nya. Tapi, bukankah ada yang bilang, “Takdir tidak selamanya akan buruk, jika kamu mampu melawan dan mengubah takdir buruk itu menjadi takdir yang baik, bukankah semua akan menjadi indah dan nyaman untuk di nikmati”. Oleh karenanya, aku akan berusaha  menikmati setiap detik apa yang telah diberikan-Nya untukku, dalam setiap hembusan nafasku, tak akan ku coba mengeluh pada-Nya. Namun, ketika sebuah ingatan masa lalu tentang cinta dan persahabatan itu muncul, rasa sakit yang hanya mampu ku pendam itu selalu muncul. Dia orang yang aku cinta, aku hanya mampu menatapnya dari jauh. Dia mungkin telah bahagia sekarang, bersama orang yang paling aku sayang yang sudah ku anggap seperti saudara bagiku.
            Tunggu, bukankah hujan juga sebagai saksiku dulu ? Ketika aku memutuskan untuk menjauh dari Reza dan membiarkaan dia bersama Citra.”, terbesit pertanyaan itu dalam hatiku. Sakit, rasa sakit itu kembali menderu dalam jiwaku. Aku tak mampu atau bahkan mungkin tak akan pernah mampu melupakan Reza, orang yang benar-benar aku cinta kala itu,di masa SMA.
            “Hmmm, sudahlah Rista kamu harus lupain Reza. Kalau kamu ingat-ingat terus, kapan kamu bisa dengan bebas menikmati hidup. Kamu harus bisa hilangin semua pikiran tentang dia. Ayo kamu pasti bisa, dia udah bahagia.”, ucapku menyemangati diri sendiri yang sebenarnya sangat lemah ini. Rista adalah namaku, Arista Febriana lengkapnya.
 Semoga aku sanggup Tuhan.”, doaku dalam hati sembari tersenyum. Hingga tak terasa lama-lama aku mulai memejamkan mataku dan tertidur pulas sembari menikmati dinginnya malam ini.

***
            Pagi ini, di hari Senin, ku mulai aktifitas baru yang super sibuk, yaitu sebagai seorang mahasiswa dan juga pegawai magang di sebuah sanggar musik. Sekarang aku duduk di bangku kuliah semester 7 jurusan seni musik di salah satu universitas yang cukup terkenal di Jawa Tengah. Hmm.. cukup melelahkan bagiku, karena aku harus mampu membagi waktu kapan aku harus kuliah, bekerja, dan membuat laporan skripsi.
            “Rista, sarapan pagi sudah siap. Turun segera sayang !”, seru ibuku dari balik pintu kamar.
            “Iya bu, sebentar lagi Rista selesai beres-beresnya. Ibu tunggu saja dulu di meja makan, Rista menyusul.”, jawabku sambil membereskan semua buku-buku dan berdandan supaya rapi.
            Beberapa menit kemudian aku pun keluar dari kamar dan bergegas untuk sarapan bersama ibu beserta adik laki-laki dan ayahku di ruang makan. Aku anak pertama dari dua bersaudara, adikku masih duduk di bangku SMA kelas 2. Karena aku anak tertua dirumah, jadi aku yang paling diandalkan di keluarga ini. Keluarga kami termasuk keluarga kecil, meski rumah kami cukup sederhana, tapi kebahagiaan selalu menyelimutinya.
            “Ibu, Ayah, Rista berangkat dulu ya ? takut kesiangan ini. Nanti kalau Rista pulang agak terlambat, Rista telepon rumah.”, pamitku pada orang tuaku.
            “Ya sudah, hati-hati ya sayang.”, pesan dari ibuku.
            “Angga juga sekalian berangkat sama kakak, bu.”, ucap adikku dan kemudian mengikuti langkahku pergi.
            Semangat melanda hariku pagi ini, senyuman selalu mengembang di wajah yang cukup imut ini bagiku. Mensyukuri adalah salah satu caraku untuk hidup bahagia.
            “Sudah sampai. Cuss turun dek, ntar kamu telat lagi. Bentar lagi bel mau bunyi tuh.”, suruhku pada Angga agar segera turun dari mobil dan masuk ke sekolahnya.
            “Iya kakak Rista yang bawel!! Angga turun nih. Oh ya kak, hati-hati dijalan, jangan ngebut.”, pesan Angga padaku.
            “Iya adekku yang super cerewet !! udah ah sana masuk.”
Aku pun bergegas pergi ke kampus untuk mengambil data yang harus di bawa pada pemagangan kali ini. Hingga tak terasa waktu begitu cepat berlalu dan akhirnya aku sampai juga di kampus. Aku bergegas ke fakultas karena waktu sudah menunjukkan pukul 07.30, karena dosen pembimbing sudah menunggu di kelas.
Setengah jam sudah berlalu dan sekarang aku sudah mendapat data-data yang diperlukan untuk keperluan magangku. Kini saatnya aku harus pergi ke tempat pemagangan. “Rista !!”, terdengar seseorang memanggilku dari belakang. Akupun menoleh dan melihat siapa yang memanggilku. Dan ternyata orang itu adalah Ilham, teman satu kelasku dan cukup akrab denganku.
“Oh kamu, Ham. Ada apa kamu memanggilku?”, tanyaku pada Ilham.
“Kamu mau ke tempat pemagangan kan? aku boleh bareng kamu gak? Kan kita satu tempat, lagian aku lagi gak bawa motorku.”, pintanya padaku.
“Oh, boleh kok boleh, tapi kamu yang nyetir ya?”, jawabku sambil tersenyum. Ilham hanya diam dan menatap dengan tajam wajahku saat tersenyum.
“Cantiknya.”, ucap Ilham yang tak lepas memandangi wajahku. “Kamu ngomong apa Ham?”, tanyaku yang tak jelas mendengar ucapan ilham tadi.
“Eh, enggak-enggak, ayo kita berangkat.”,jawab Ilham gugup dan tersadar dari lamunannya.
Akhinya kami berdua pun berangkat bersama ke tempat pemagangan. Ilham yang mengemudikan mobilku, tapi aku merasa aneh karena dia selalu mencuri tatapan kearahku. Aku tak tahu maksud dari kelakuannya itu. Namun aku hanya membiarkannya , cukup dengan positif thingking saja.
Beberapa menit kemudian kamipun telah sampai di tempat itu. Kam bergegas turun dan mencari rungan dimana pemimpin magang kami berada. Setelah kami bertemu, kami di tempatkan di berbed kelas. Aku ada di kelas piano dan Ilham ada di kelas gitar. Aku berjalan sendiri mencari ruang dimana aku mengajar dan akhirnya ketemu. Namun, aku mendengar sebuah dentuman piano mngalir indah di telinga. Aku penasaran dan kemudian aku bergegas masuk ke kelas itu. Dan kagetnya, aku melihat seseorang yang tak asing lagi bagiku. Reza!! Ya itu Reza yang sedang memainkan piano dengan indah itu.
“Re... Reza! Ngapain kamu disini?”, tanyaku gugup sekaligus campur aduk kaget.
“Rista! Kamu juga ngapain disni?”, tanyanya balik padaku.
“A.. a ku.. aku mulai ngajar musik di kelas ini. Kamu sendiri?”
“Sama aku juga Ris. Mungkin kita emang ditakdirkan buat dekat dan sama-sama lagi ya.”, jawab Reza dengan tersenyum.
Kaget.. jujur saja aku kaget dengan ucapan Reza barusan. Tidak tahu kenapa, tiba-tiba dalam dada ku terasa ada yang berbunyi, dag dig dug terdengar. Namun, ketika aku teringat kembali mengenai masa lalu, rasa sakit itu kembali datang. Rasa tak rela melepasnya kembali muncul. Tapi aku juga harus sadar, sekarang dia adalah milik orang lain, sahabatku sendiri.
“Maksud kamu? Oh mungkin ditakdirkan sama-sama untuk berteman lagi ya ?”, jawabku nglantur dari pertanyaan Reza tadi dengan senyum canda.
“Emm begitu ya kamu mengartikan..”, ucap Reza dengan nada lirih yang hampir tidak terdengar olehku.
“Maaf, kamu ngomong apa?”
“Oh bukan apa-apa, duduk dulu Ris! Gimana kabar kamu ris? Udah lama kita gak ketemu, emm hampir 4 tahun sepertinya, sejak kejadian itu.”, tanya Reza dengan mimik muka yang semakin datar.
“Aku baik, Za. Emm  udah lama ya ternyata.”, jawabku pura-pura tersenyum manis dibalik tangis hati.
“Iya..”
Akhirnya dihari itu, kami berdua saling bercakap antara satu dan lainnya. Kami berdua mengobrol bagai sepasang kekasih yang lama terpisah dan tak bertemu. Saat itu pula aku mencoba meluapkan rasa rinduku pada Reza yang sesungguhnya. Namun, tak sebebas itu kata terucap. Ada tembok yang masih membatasi kami berdua.
***

Tiga bulan sudah hari berlalu, tak terasa selama itu pula aku dan Reza bersama meski hanya ada di dalam sanggar tempat kami berdua mengajar sebagai mahasiswa magang. Hubungan kami pun kembali dekat selayaknya dulu kami masih SMA. Percakapan kami masih nyambung dan hobi kami juga masihsama seperti dulu. Kami mencintai dunia musik. Reza memiliki cita-cita untuk menjadi seorang komposer yang profesional.
Sore itu ketika aku sudah selesai mengajar vokal di kelas piano, tiba-tiba saja dari belakang Reza mendatangiku. Kaget yang aku rasakan saat itu, hingga tak sengaja aku melempar semua buku-buku yang ada di tanganku. Bruukkk...
“Reza!! Kamu bikin kaget aja deh. Kan lihat buku ku jatuh semua.”, omelku pada Reza yang kemudian mulai mengambil satu per satu buku yang berserakan itu. Deg.. jantungku terasa seperti berhenti berdetak ketika tanganku dan tangan Reza bersentuhan saat mengambil buku. Saling menatap, reflek kami berdua melakukan itu. Mata kami saling berpadu, namun dengan cepat aku tersadar atas kejadian itu.
“emm maaf Ris, aku gak bermaksud.”, ucapnya padaku
“Iya gpp, makasih udah bantuin aku.”, ucapku pada Reza.
“He.em.. oh ya, kamu mau gak dinner sama aku Ris?”, tanya Reza padaku dan mampu membuat aku tercengang kaget.
“Haa?? Kamu gak salah ngajak aku Za?”, tanyaku memastikan atas apa yang diucapkan Reza.
“Aku gak salah ajak. Kamu mau ya?”
“Tapi....”, jawabku sedikit ragu karena tiba-tiba saja aku terpikir tentang Citra.
“Gak ada tapi-tapian. Besok malam aku jemput kamu dirumah jam 7. Siap-siapya? Jagan lupa dandan cantik.”, pesan Reza padaku dan bergegas pergi meninggalkanku.
Rasa tak percaya maih saja menghantui otakku. Aku masih bingung mengapa tiba-tiba saja ia mengajakku untuk dinner. Aku berpikiran bagaimanakah perasaan Citra jika tahu Reza mengajakku untuk dinner bersamanya. Entahlah, biarkan waktu yang akan menjawabnya besok.
Waktu bergulir begitu cepatnya, hari itu telah dilalui dan kini tiba saatnya untuk pertemuanku dengan Reza. Hari itu hujan turun menyelimuti kota, cukup dingin menusuk sampai ke tulang rusukku. Seperti hatiku, yang sedang diselimuti oleh mendung rasa penasaran. Aku tak tahu apa yang akan Reza bicarakan pada dinner itu. Aku sudah bersiap dan berdandan cantik. Gaun biru yang indah nan anggun sudah melekat di tubuhku. Dan waktu kini sudah menunjukkan pukul 7 malam. Aku bersiap keluar rumah dan menemui Reza yang sudah menungguku disana.
“Hay, maaf udah nunggu lama a?”< ucapku dengan lembut.
“Gak kok, baru aja aku sampai. Emmm Ris, kamu cantik banget malam ini.”, puji Reza padaku dan mampu membuat aku malu saat itu juga.
Kami pun bergegas masuk ke mobil. Reza dengan lembut membukakan pintu mobilnya untukku. Aku mulai melayang, aku serasa putri raja yang sedang dijemput oleh pangerannya. Senyum mengembang di bibirku dan perasaan itu mulai muncul kembali mengisi relung hati seperti dulu, ketika aku masih berpacaran dengannya. “Tuhan.. mengapa engkau berikan perasaan ini kembali hidup? Aku takut Tuhan jika menyakiti orang lain, terlebih lagi sahabatku.”, ucapku dalam hati. Diam, aku hanya bisa diam dan terus bertanya-tanya dalam hati, apa yang akan terjadi nantinya.
Tak terasa akhirnya kami pun sampai di tempat tujuan kami. Di sebuah restoran yang desainnya cukup elegan dan romantis. Di dekat jalan masuk terdapat banyak bunga dan lampion-lampion yang indah. Sungguh romantis malam itu terasa bagiku. Aku masih tak tau apa yang sebenarnya Reza ingin lakukan. Setelah berjalan tidak terlalu jauh, kami sampai di sebuah altar berhiasan cukup luas dimana kami akan makan. Reza membukakan kursi untukku dan memberikan senyum indahnya tepat di depan wajahku. Dag dig dug jantungku berdegup lagi.
“Bagaimana Ris, kamu suka tempat ini?”, tanyanya dengan lembut.
“Emm iya, aku suka. Sangat indah. Tapi aku masih bingung kenapa kamu lakuin semua ini.”, ucapku dengan penuh rasa penasaran.
“Sini ikut aku!”, ajak Reza  menggandeng tanganku dengan mesra dan membawaku ke sebuat lingkaran lilin yang berhiaskan bunga, sungguh begitu romantis.
“Rista, aku mau ngomong jujur sama kamu. Aku masih sayang kamu Ris, aku gak bisa lupain kamu semenjak kita pisah dulu. Aku Cinta Kamu Rista. Kamu mau gak mengulang masa indah kita dulu dan menjadi istriku nanti?”, ucapnya dengan jujur dan lantang sembari mengeluarkan sebuah cincin permata yang begitu indah.
Kaget, jujur saja seketika aku kaget saat itu. “Bukankah kamu bersama Citra, Reza? Aku tak mau menyakitinya. Dia sahabat terbaikku. Aku sayang dia.”, ucapku sekaligus meminja kejelasannya.
“Aku sudah tidak bersamanya semenjak 2 tahun yang lalu, saat kita sama-sam akan kuliah. Saat itu Dia tahu segalanya tentang kita dulu. Dia tak ingin menyakitimu lebih dalam karena keegoisannya. Dia memutuskan untuk pergi dariku dan memilih orang lain yang tulus sayang sama dia. Rasti, percayalah padaku, aku masih sayang kamu dari dulu.”, ucap Reza menjelaskan apa yang terjadi dahulu. “Dan lihatlah Ras, bukankah hujan selalu menjadi saksi kita? Ketika kita mulai bersama, terpisah, dan saat ini juga aku ingin hujan menjadi saksi kembalinya cinta suci kita Rasti. Jadi, aku mohon sama kamu, kembalilah bersamaku dan kita jalani hidup bahagia kita.”
Diam, aku tak mampu berkata sedikitpun saat itu. Air mata mengalir deras di pipiku. Aku tak menyangka jika Reza sebegitu inginnya kembali lagi padaku, membuat masa-masa indah seperti dahulu. Seperti aku yang sesungguhnya benar-benar masih mencintainya. Tak ingin berpisah lagi darinya.
“Rezaa.. maaf aku..”, ucapku menggantungkan jawabanku dan membuat mimik wajah Reza berubah sedikit kecewa. “Akuu... Aku gak bisa hidup tanpa kamu Za. Aku sayang kamu. Aku cinta kamu. Aku gak mau kehilangan kamu lagi. Aku mau menjalin kembali hubungan denganmu, aku ingin bahagia denganmu.”, jawabanku disertai dengan tangisan bahagia danmemeluk erat Reza.
“Makasih Ris, makasih banget. Aku sayang kamu, aku gak akan sia-sia in keberadaan kamu Ris.  I love you Ris, I Love Youu..”, ucap Reza begitu bahagia sembari ia memasangkan cincin ke jari tanganku dan mencium keningku. Indah, sungguh indah terasa masa itu terulang kembali.
Terima kasih Reza, telah hadir kembali menemani hidupku dan menghapus kesunyian hatiku. Aku menyayangimu dengan suci, aku setia untukmu dan hanya untukmu. Dan  terima kasih juga untuk hujan yang telah menjadi saksi cinta kami berdua untuk kesekian kalinya. Aku menyayangi ciptaanmu itu Tuhan. Semoga kita akan slalu bersama, meski badai akan selalu menghantui setiap perjalanan cinta kita. Cinta kami untuk selamanya. I Love You Reza...


~selesai~




Karya :        
Ismiterra Cahya Pradani
@Ca_SbCm


Jangan lupa like sama komentarnya :)  follow juga twitternya teman

0 Comments:

Post a Comment



By :
Free Blog Templates