Kamis, 06 Maret 2014
Entah kenapa, aku sangat suka memandangi hujan, bagiku hujan
adalah sebuah kenangan. Karena hujan aku dapat menemukan apa arti cinta dan persahabatan
itu. Aku selalu memperhatikan setiap tetes hujan itu jatuh membasahi bumi ini. Aku
selalu memandang semua itu penuh arti. Hingga aku selalu teringat saat-saat
itu. Saat aku dengannya di bawah setiap tetesan air hujan itu.
Masih terlintas jelas kejadian itu dibenakku, kejadian satu
tahun silam ketika aku masih bersamanya. Rafael, Rafael Landry Tanubrata
lengkapnya, ya, itu nama orang yang pernah singgah dalam kehidupanku.
“Kak
Rafa ! Tungguin aku kenapa sih ? Jangan buru-buru..” omelku pada pemuda yang
bernama Rafa itu.
“Yah,
lemot banget sih kamu, Ra? Cepat dikit kenapa sih ? Udah hampir hujan ini.”
“Iya,
bawel.” jawabku sembari berlari kecil padanya.
Raya Anastasya itu adalah nama
lengkapku. Aku terlahir dari keluarga yang cukup terpandang. Aku masih duduk di
bangku SMA kelas XI, sedangkan Kak Rafa, dia sudah kelas XII. Aku dan Kak Rafa
bersahabat sejak SMP. Dan sejak saat itu pula aku mulai menyimpan rasa padanya.
“Raya
! Cepet lari ! Udah mulai gerimis nih ?”
“Iya,
iya. Capek tau Kak !” ucapku sedikit ngos-ngosan. “Wah mau hujan nih, udah lama
gak hujan-hujanan. Aku kangen hujan. Aku suka hujan. Kerjain kak Rafa aja ah !”
umpatku dalaam hati.
“Aduh
!” teriakku mengeluh pura-pura jatuh.
“Raya
! Kamu kenapa ? Kamu gak apa-apa kan ?” tanya Kak Rafa sedikit khawatir padaku.
“Sakit
kak, kaki aku. Kepleset nih.”
“Haduh,
ada-ada aja ! Mana mau hujan lagi !” omel Kak Rafa sendiri.
Tiba-tiba hujan pun mulai turun dengan
derasnya. Aku dan Kak Rafa pun kehujanan dan kami berdua basah kuyub. Aku
sangat senang hari ini, karena akhirnya aku dapat merasakan lagi sensasi hujan.
“Yeayy,
hujan !” ucapku berdiri dan kegirangan.
“Kamu
kok bisa berdiri ? Kamu bohongin kakak ya ?”
“Hehe,
maaf kak ! Abis udah lama aku gak hujan-hujanan.” Ucapku sambil menunjukkan
jari telunjuk dan jari tengahku membentuk huruf V.
“Dasar
Raya nyebelin. Kan kakak jadi basah semua.”
“Ya
maaf kak ?” jawabku lesu.
“Iya,
aku maafin kok. Terus sekarang kita gimana ? Basah ini.”
“Yaudah
pulang aja ? Nanti kalau sakit, repot dong jadinya.” Ucapku sok dewasa.
“Yaudah
ayo !” jawab Kak Rafa sembari menarik tangan kananku. Dag dig dug, itu yang
saat ini aku rasakan. Entah ada apa, jantungku berdegup sangat kencang hingga
aku tak mampu berkata apa-apa. “Apa aku beneran cinta kak Rafa ?” tanyaku pada
diriku sendiri. Aku masih terpaku atas perlakuan itu, hingga aku tak sadar jika
aku sudah tepat berada di depan gerbang rumahku.
“Udah
sampai, kamu cepetan masuk terus ganti baju ya ? Nanti kamu sakit.” Ucap kak
Rafa tiba-tiba.
“I
iya, Kak !” jawabku agak gagu.
Aku
pun masuk ke dalam rumah dan segera pergi ke kamar untuk ganti baju. Masih
hangaat genggaman tangan itu. Genggaman tangan Kak Rafa yang bisa membuat
jantungku berdetak hebatnya.
*****
Tiga hari sudah kejadian itu
berlalu. Masih teringat jelas kejadian saat tanganku di genggam Kak Rafa di
bawah guyuran air hujan. Dan ternyata, pagi ini mendung menyelimuti angkasa.
Sang mentari pun tak menampakkan sinar indahnya. “Hujan, aku suka hujan.”
ucapku dalam hati.
Pagi ini waktu sudah menunjukkan
pukul 06.00. Aku bergegas turun dari kamarku yang berada di lantai dua dan
pergi menuju ruang makan. Disana kulihat ayah dan bundaku bersama kakak
tersayangku, Kak Rangga.
“Pagi...”
salamku pada semuanya.
“Pagi
juga sayang.” jawab bunda sembari mencium keningku.
“Raya
berangkat dulu ya ? Takut ditunggu lama.” Pamitku pada semua orang yang ada di
ruang makan.
“Pasti
Rafael yang nunggu. Iya kan ?”
“Udah
tau, ngapain tanya !” jawabku sewot pada Kak Rangga.
“Ih
dasar adek nyebelin ! Kamu suka Rafael ya ? Perasaan kamu belain dia terus.” duga
Kak Rangga padaku.
“Tauk
ah.” ucapku sewot karena takut Kak Rangga tau itu.
Beberapa menit kemudian aku pun
telah sampai di depan gerbang sekolah. Ku lihat disana ada Kak Rafa yang
berdiri dengan seorang perempuan dan mereka sangat mesra. Rasa cemburu mulai
hinggap di hatiku. Hal itu serasa menyayat-nyayat hati kecilku yang telah mulai
rapuh ini. Tak terasa air mata mulai menetes bersamaan dengan gerimis yang
mulai turun. Beberapa waktu kemudian, Kak Rafa pun menoleh ke arahku dan tersenyum
padaku. Spontan aku pun menghapus air mataku dan bergegas pergi mendekati Kak
Rafa.
“Hay
kak ?” sapaku padanya.
“Kamu
lama banget sih, Ra ? Sampai jamuran nih kakak nunggu kamu.” omel Kak Rafa
padaku.
“Ya
maaf, tadi di jalan macet.” elakku pada kak Rafa.
“Yaudah,
aku maafin. Oh ya, kenalin ini Eva, teman sekelas aku.” Sembari menunjukkan
perempuan yang ada disampingnya itu.
“Hay,
Kak. Aku Raya.” Ucapku sembari menjulurkan tangan.
“Eva.”
Ucapnya padaku dengan membalas uluran tangan.
“Yaudah,
masuk yuk ? Udah gerimis juga nih.”
“Iya.”
jawabku singkat.
Cantik, ya, itu hal pertama yang aku megerti sejak pertama
melihat Kak Eva. Mereka berdua pun juga terlihat sangat cocok saat berjalan
berdampingan. Dan kulihat pula bagaimana ekspresi Kak Rafael saat bersama Kak
Eva. Ada hal yang sangat berbeda yang nampak padanya. Hingga aku pun mulai
berfikir, jika aku harus membuang jauh-jauh perasaanku pada kak Rafa. Karena
mungkin semua itu adalah hal yang terbaik untukku dan untuknya.
Satu bulan sudah waktu telah berlalu dan kini aku juga telah
mendengar kabar dari temanku, jika Kak Rafa telah berpacaran dengan Kak Eva.
Sakit hati melanda hatiku saat ini.
Sangat perih semua itu dirasakan, meskipun dari awal melihat mereka pertama
bersama, aku ingin melupakan Kak Rafael, tetapi tetap saja susah untuk melakukannya.
Yang ada sekarang ini, hanya kegalauan membayangi hari-hariku.
Malam ini hujan mulai turun lagi dengan derasnya.
Kegelisahan mulai membayangi anganku. Entah apa yang sedang aku fikirkan,
perasaan tak enak datang begitu saja.
“Raya
!” teriak kakakku dari luar kamar.
“Ada
apa kak ?” tanyaku sembari membuka pintu kamar.
“Ada,
Rafael. Kamu temui dia dulu sana !”
“Hem,
iya.” jawabku dengan nada lesu.
Aku
pun turun dari lantai dua menuju ruang tamu. Ku lihat Kak Rafael disana duduk
diam tak seperti biasanya.
“Ada
apa Kak ?” tanyaku padanya.
“Kamu
ada apa sih Ra ? Kenapa akhir-akhir ini kamu jarang ketemu Kakak ?”
“Aku,
aku gak kenapa-kenapa kok.” Ucapku sedikit mengelak.
“Kamu
bohong ! Jujur sama kakak !”
“Udahlah
kak ! Buat apa aku jujur ? Semua itu juga gak akan berguna.”
“Maksud
kamu apa ?”
“Kakak
gak tau maksud aku? Aku itu sayang dan cinta sama kakak !”
“Sayang
? Cinta ?”
“Iya,
aku sayang dan cinta. Tapi, semua udah percuma kan ? Udahlah, mendingan kakak
pulang aja !”
“Tapi,
Ra...”
“Udah,
kakak pulang!” ucapku sembari mendorong Kak Rafa keluar rumah. Hujan deras yang
mengguyur dengan kencangnya seakan mengerti perasaanku malam ini.
“Raya
! Maafin kakak kalau selama ini kakak gak peka sama kamu. Kakak juga sayang kamu
!” teriak kak Rafa dari luar gerbang dengan berhujan-hujanan dan aku pun tak
menolehnya sedikitpun.
Ciittt...
suara rem mobil terdengar jelas di telingaku tepat di depan rumahku. Spontan
aku pun menoleh. Aku sangat kaget karena ternyata Kak Rafa tertabrak mobil itu
dan terkapar lemah tak berdaya.
“Kak
Rafa!!!” teriakku dari depan pintu dan bergegas berlari mendekatinya.
“Kak
Rafa, Kakak bangun kak ? Raya sayang kakak. Raya mau kakak bertahan.” Ucapku
sambil menangis ketakutan.
“Ra
Raya, maafin ka kak ya? Kakak u dah banyak salah sama kamu?” ucap kak Rafael
terbata-bata menahan sakitnya.
“Kakak
gak salah, yang salah Raya. Kakak bertahan ya buat Raya? Raya sayang kakak.”
“Ka
kak ju ga sayang kamu. Dan hujan ini juga jadi saksi, ka kalau kakak juga cin
ta kamu.” ucap Kak Rafa yang semakin terbata dan suara yang tidak jelas.
“Iya
kak. Raya cinta banget sama kakak. Kakak jangan banyak bicara dulu. Raya mau
bawa kakak ke rumah sakit. Kakak bertahan untuk Raya ya ?” pintaku dengan nada
bergetar karena takut kehilangan Kak Rafael.
“Gak
usah, Ra. Ka kak u dah gak kuat. Kakak mau pergi a ja. Ka kak sayang Ra ya.”
ucapnya untuk terakhir kalinya.
“Kak
Rafa.....” teriakku histeris melihat kepergian kak Rafa, orang yang sangat aku
sayangi. Menangis dan menyesal itu yang kurasakan saat ini...
Paginya, pemakaman pun telah
dilaksanakan. Terlihat jelas gundukan tanah merah itu telah menyelimuti jenazah Kak Rafa. Taburan bunga warna-warni
masih segar di atasnya. Batu nisan pun juga telah terpasang rapi dan
bertuliskan sebuah nama, Rafael Landry Tanubrata. Ya, orang yang pertama
mengisi hidupku sudah pergi jauh disana, di tempat yang tenang dan indah untuknya.
“Selamat jalan Kak Rafa, aku sayang kamu” ucapku terahir kalinya sebelum
meninggalkan tempat pemakaman.
*****
“Raya
!” panggil seseorang sembari memegang pundakku.
“Eh,
Kak Rangga.” sadarku dari lamunan itu.
“Sedang
apa kamu ? Kenapa melamun sendiri ?” tanya Kak Rangga lembut.
“Aku
gak melamun kok. Aku cuma kepikiran seseorang”
“Rafael
?” tanyanya padaku.
“Iya.”
jawabku dengan nada lembut.
“Yaudah,
daripada kamu mikirin dia terus, lebih baik kamu ke makamnya. Hari ini kan
tepat setahun dia meninggal.” ucap Kak Rangga mengingatkanku.
“Bener
juga, Kak. Yaudah deh, aku kesana.” responku yang kemudian bersiap-siap untuk
pergi ke makam itu.
Waktu memang cepatlah berlalu dan
kita takkan pernah bisa tahu, kapan Tuhan akan mengambil nyawa kita. Dan kini,
meski Kak Rafael orang yang paling aku sayang telah pergi meninggalkan aku
untuk selamanya, aku takkan pernah melupakan semua kenangan saat bersamanya.
Aku akan selalu mengingatnya sampai Tuhan memberi tahu batas waktuku untuknya.
Sampai aku akan mengerti semua memoriku ini, di balik semua hujan.
Karya :
Ismiterra
Cahya Pradani
@Ca_SbCm
;;
Subscribe to:
Postingan (Atom)

