Rabu, 01 Januari 2014
Diam
ku sendiri menatap langit yang kala itu sepi tanpa bintang di dalamnya... hanya mendung yang terlihat,
hanya angin menusuk ke jiwa, dan hanya suara rintihan hujan menemani. Semua itu seperti aku, hati yang mendung,
jiwa yang merana, dan cinta yang terbengkalai.
Andai saat itu tak terjadi, mungkin aku tak akan
menyakiti hati mereka. Hati yang suci dan hati yang tak berdaya.. Tuhan...
maafkanlah aku....
“Tara...? ini, teh hangat buat kamu....” memberikan
secangkir teh dan menyadarkanku yang sedari tadi melamun.
“ehhmmm.. iya, makasih Ndra?”
“He’em...” tersenyum manis di hadapanku.
Namaku
Tara, lengkapnya Tara Cahya Pradina.... dan orang yang tadi menyadarkanku
adalah Andra, Andra Lesmana. Dia adalah orang yang tlah menakhlukkan hatiku
saat ini. Namun awalnya bukan dia yang bisa menakhlukkan hatiku.
Dulu,
aku pernah terjebak dalam balutan cinta. Dicky dan Morgan,, mereka berdua
pernah singgah dalam hatiku. Semua itu terjadi 2 tahun lalu. Saat aku kuliah.
*FLASHBACK ON
“Mbak Tara, Apakah benar anda adalah orang yang
menyebabkan Morgan dan Dicky bertengkar..?” Tanya wartawan padaku..
‘Emmm, maaf ya mbak, saya tidak tau apa-apa...”
jawabku singkat dan aku pun berlari menghindar dari wartawan. Tak ku sangka
ternyata mereka mengejarku kemanapun aku berlari
“Oh Tuhan,, selamatkan aku dari orang-orang itu.!”
Doaku dalam hati
Namun
tiba-tiba dari samping kanan ada seseorang yang menarik tanganku. Spontan aku
kaget dan tertarik olehnya.
“Eh...”
“Ssssttt, jangan berisik..” jawab orang itu sambil menutup mulutku.
Wartawanpun
telah berlalu dan aku pun merasa sedikit lega. Aku pun kemudian menoleh ke
belakang , kearah orang yang menolongku tadi. Dan ternyata orang itu adalah
morgan... Tak sengaja aku dan morgan pun
saling bertatapan. Hatiku terasa dag dig dug saat menatap matanya. Namun aku
tersadar, aku telah menyebabkan Morgan dan Dicky bertengkar.
“Emmh eh,,, makasih...” ucapanku pada Morgan sambil
melepas pelukan.
“iya..” Jawabnya dengan singkat.
“Huuhhh kesal aku, kenapa sih aku di kejar-kejar
terus. Apa coba salahku?” gumamku pada Morgan.
Morgan
pun hanya diam dan tersenyum padaku.
“Kenapa senyum doank ?” tanyaku padanya.
“habis, kamu lucu..” jawabnya dengan senyuman
khas’a..
Aku
dan Morgan pun akhirnya memutuskan untuk pergi. Kita berdua jalan bareng untuk
pergi ke Kantin. Namun, sesampainya di sana hatiku serasa terbakar di atas api
yang membara. Ya, kulihat Dicky dengan cewek lain dan itu membuat hati aku
benar-benar sakid. Mereka berdua sangat mesra. Dan tak ku sangka pula air
mataku menetes dengan derasnya.
“Kamu kenapa Ra ?” tanya Morgan padaku.
Aku
pun berlari pergi meninggalkan Morgan. Dicky pun melihat kejadian itu dan dia
pergi dari kantin kemudian bergegas mengejarku. Aku hanya bisa menangis,
menangis dan menangis..
“Kenapa aku bisa jatuh Cinta sama Dicky ???
Kenapa....!” Teriakku di belakang sekolah untuk melepas rasa penat di hatiku...
“Tuhan... mengapa aku sangat bodoh ? mengapa aku
harus mencintai orang yang mungkin tak mencintaiku ? sedangkan di sisi lain ada
orang yang sayang padaku ? tapi Tuhan... aku juga tak mau mengorbankan
persahabatan mereka. Gara-gara aku mereka bertengkar. Tuhan.... Apa yang harus
aku lakukan ?” teriakku menyesali semua itu...
*****
Hari
itu pun tlah berlalu, kini saatnya aku harus mulai berfikir keras untuk siapa
hati ini ku sandarkan.siang itu saat aku dikamar, ada seseorang mengetuk pintu
kamar, dan ternyata dia adalah ibu ku tercinta.
“Tara?” panggil ibu padaku.
“Iya bu, ada apa ?”
“Ada seseorang yang mau ibu kenalkan padamu..”
“Siapa bu?” tanyaku penasaran.
Aku pun mengikuti ibu untuk pergi ke ruang tamu. Ku
lihat ada seorang cowok bersama ayah dan
ibunya sedang duduk di kursi ruang tamu.
“Ini yang namanya tara to ?” tanya seorang ibu yang
menunjuk ke arahku.
“Iya, aku Tara tante...” jawabku dengan senyuman
manis.
“Cantik ya? Oh ya, kenalin anak tante namanya
Andra.”
“Hay, Andra..” ucapnya sambil mengulurkan tangan.
“Tara..” balasku mengulurkan tangan pula.
“Sepertinya mereka memang cocok ya ? berarti tidak
salah donk jika kita menjodohkan mereka ?” tanya ibu ku pada tamu itu..
“Dijodohkan Bu?” tanya ku kaget
“Iya nak...”
Hatiku pun mendadak lemah, diriku pun sudah tak
berdaya. Ya... mungkin ini jawaban yang tlah di berikan Tuhan.. mungkin aku tak
bisa bersatu dengan salah seorang diantara Dicky dan Morgan.. Ya.. ku harus
melupakan mereka, ku harus bisa relakan mereka....
*****
Hari
itu tlah berlalu dan kini saatnya ku harus kembali lagi ke kampus. Pagi itu
saat aku menyebrang jalan, ku lihat Dicky menungguku di seberang jalan. Aku
hanya terdiam, air mata mulai menetes lagi di pipiku. Aku pun menyebrang dengan
nekatnya tanpa menoleh kanan maupun kiri. Mobil dan motor yang lewatpun
menglakson dengan kerasnya namun aku tetap tak peduli.
“Tara tunggu, kenapa kamu nekat begitu ?” tanya
Dicky padaku sambil memegang tanganku.
Aku hanya terdiam dan kemudian melepaskan genggaman
tangan Dicky.
“Ra, kenapa kamu diem aja ? Kenapa Ra ?” kembali
memegang tanganku.
“Lepasin aku Dick, lepasin!!” bentakku pada dicky.
“Gak!! Jawab dulu Ra?”
“Dick, mulai sekarang kamu lupain aku Dick ? Lupain
aku?”
“Gak Ra,, aku gak bisa.. Aku Cinta kamu ra..”
“Semua terlambat Dick, Terlambat!!!”
“Maksud kamu?”
“Aku kemarin memang mencintaimu dick, tapi apa kamu
peka Dick ? Hati aku udah terlanjur hancur dic, hancurrr saat kamu sama cewek
lain.udahlah dic, sekarang kamu lupain aku aja. Udah cukup semua ini Dick !
Sory, gue harus pergi..” jelasku pada Dicky
“Tapi Ra....?”
“Cukup dick! Oh ya satu lagi, Jangan pernah kamu
bertengkar lagi sama Morgan. Aku gak mau persahabatan kalian pudar...” sambil
berlalu..
Aku pun pergi meninggalkan Dicky, dan aku tak kuasa
melihat itu semua. Hanya air mata yang menetes di pipi dengan derasnya.
“Tara?” panggil seseorang padaku dan orang itu
adalah morgan.
“Gan, aku lagi gak pengen ngomong sama siapa2.”
“Iya Ra, aku tau kok. Maafin aku dan dicky ya? Udah
buat kamu susah, aku janji aku gak akan bertengkar lagi sama Dicky..”
“Janji ya Gan?”
“Iya ra, janji !”
“Makasih gan? aku percaya kamu. Oh ya, tolong jagain
Dicky ya ? mungkin aku udah gak bisa deket lagi sama dia.” Permintaanku pada
Morgan
“Iya Ra...”
“Yaudah, aku harus pergi Gan. Byeee...” ucapku
dengan senyuman terindah.
Aku
pun berlalu meninggalakan Morgan. Dibelakang sana Dicky hanya terdiam tak
berdaya dengan kenyataan ini.
*****
Sebulan
sudah kejadian itu berlalu. Kini saatnya aku harus menghadapi kenyataan bahwa
hari ini adalah tunanganku dengan Andra. Mungkin ini memang jalanku, aku harus
melupakan semua cintaku pada dicky dan mulai
mencintai Andra.
Malam
itu semua tamu undangan mulai berdatangan satu persatu. Dan tak
ketinggalan Dicky dan Morgan datang
pula. Saat itu pula hati ku mulai campur aduk kembali.
“Dicky,, Morgan... makasih kalian dateng..” ucapku
pada mereka dengan nada bingung.
“Hemmm, apakah aku harus meninggalkan momen bahagia
kamu..” jawab Morgan..
Aku mulai terdiam....
“Bolehkah aku bicara berdua denganmu Ra ?” tanya
Dicky padaku.
“Baiklah...”
Aku dan Dicky pun keluar rumah dan berbicara berdua.
“Apa ini alasan kamu, supaya aku lupain kamu Ra?”
Aku pun sejenak diam dan kemudian menjawab...”Iya
Dick.. maafin aku.”
“Aku udah maafin kamu kok Ra.. Sekarang aku udah
mulai mengerti, mungkin kita memang tak ditakdirkan untuk bersatu.”
“Cintaku begitu rumit Dick... Aku tak bisa apa-apa.
Mungkin ini semua udah diatur oleh Tuhan..”
“Iya Ra.. Tapi aku seneng kog ra, aku tau kalau kamu
dulu pernah mencintaiku. Makasih ra ?” ucapnya sambil menggenggam tanganku.
“Iya Dick...”
“Kamu masih mau kan berteman denganku ?”
“Pasti Dick. Aku mau kog....” jawabku sambil
tersenyum untuk Dicky...
Malam
itu pun tlah berlalu, dan mungkin malam itu juga menjadi malam yang cukup indah
buatku. Aku tlah memiliki pasangan hidupku kelak. Ya, aku Yakin suatu saat
nanti aku pasti bisa mencintai Andra dengan utuh. Aku yakin itu....
*FLASHBACK OFF
“Sayang??” panggil Andra mengagetkanku..
“Emmm,, iya Andra. Ada apa ?” sadarku dari lamunan
itu.
“Kenapa kamu ngelamun?”
“Gak ada apa2 kog....”
“Yasudah, ini udah malem. Tidur ya sayang ? Ntar
kamu sakid lagi.... Kasihan khan anak kita yang ada di kandunganmu?”
“Iya deh Ndra..... Ayo kita tidur...”
Aku
dan Andra pun bergegas pergi ke tempat tidur.
Ya, sekarang aku memang sudah menjadi milik Andra,
suamiku. Kini aku benar-benar sudah mencintainya dengan utuh. Anak yang ada
dalam kandunganku inilah yang tlah membukakan cinta di hatiku untuknya.
Cinta
memang harus memilih, tapi jika takdir cinta tak berkehendak itu terjadi
kitapun juga harus memahaminya. “Dicky, terimakasih dulu kau tlah membukakan
perasaanku dan terimakasih karna engkau aku memiliki cinta. Morgan, terimkasih
kau tlah bukakan kesetiaan dan pengertian untukku. Kalian akan slalu ada di
hatiku... selamanyaa....”
Karya :
Ismiterra Cahya Pradani
@Ca_SbCm
;;
Subscribe to:
Postingan (Atom)










