Rabu, 25 Desember 2013

Kisah Hidup Sesa



Gerimis menghiasi langit pagi ini. Mendung nampak jelas di pelupuk mata, seperti keadaan gadis cantik ini. Wajah sedih, pilu, nan penuh duka menghiasinya. Sesa Cantika tepatnya. Dia terlahir dari keluarga yang sangat sederhana, namun kasih sayang sangat lengkap menghiasi hidupnya. Namun kini, suasana duka menyelimuti Sesa. Dia telah kehilangan orang yang sangat dicintainya, ibu kandungnya. Ya, hari ini adalah hari pemakaman ibu Sesa. Rasa sesal menghinggapi gadis cantik ini.
“Maafkan Sesa, ibu. Sesa belum bisa mewujudkan cita-cita  ibu. Tapi Sesa janji, Sesa akan mengejar cita-cita itu buat ibu, Sesa pasti lulus kuliah dan jadi dokter.”, ucap gadis cantik itu sembari memeluk gundukan tanah merah di hadapannya.
            Sesa memang sangat menyayangi ibunya. Sebelum ibunya meninggal dia selalu menuruti apa yang ibunya inginkan. Dan kini setelah ibunya telah tiada, Sesa hidup hanya sebatang kara. Namun, Sesa tak pernah menyesali hidupnya yang seperti ini. Dalam fikirannya hanya ada satu kata, optimis. Dia akan selalu optimis menjalani hidupnya dan semangat tanpa menyerah.
Seminggu setelah kematian ibunya, kini Sesa telah kembali beraktifitas seperti sedia kala. Dia kembali melakukan aktifitasnya sebagai seorang mahasiswi di universitas yang cukup terkenal di kotanya, di Bandung. Dan juga sebagai pembantu dokter di sebuah rumah sakit kecil di kota itu. Dia bekerja disana untuk memperoleh uang, yang nantinya uang itu digunakan untuk membayar kuliahnya agar lulus menjadi sarjana dan untuk meneruskan hidupannya.
            Pagi ini Sesa terlihat begitu cantik dan anggun saat menggunakan dress selututnya beserta rambutnya yang diurai. Kesederhanaan tetap terlihat padanya, meski penampilannya begitu indah.
“Pagi Sesa ?”, sapa seseorang dari arah samping saat dia sampai di tempat kerjanya.
“Pagi juga, Dokter Rangga.”, sembari tersenyum menjawab salam itu.
            Dokter Rangga atau Dokter Rangga Moela Anggara lengkapnya, dia adalah salah satu dokter yang bekerja di rumah sakit tempat Sesa bekerja. Dokter Rangga merupakan salah satu dokter yang kerjanya dibantu oleh Sesa. Orangnya baik, murah senyum, dan juga penyabar.
“Bagaimana keadaan kamu ? Maaf, minggu kemarin aku tidak bisa lama menemani kamu  di pemakaman ibumu?”, ucap dokter Rangga meminta maaf.
“Iya tidak apa-apa. Aku baik-baik saja kok, Dok. Oh ya, ini laporanku yang minggu kemarin. Maaf terlambat.”
“Sudahlah, aku bisa mengerti.”, jawab Dokter Rangga sembari menerima laporan dan tersenyum sangat manis.
Dag dig dug, jantung Sesa berdegup sangat kencang melihat itu  semua. Sesa terus berfikir karena kebingungan ada apakah sebenarnya yang terjadi pada jantungnya. Setiap ia menatap senyuman manis Dokter Rangga, selalu saja jantungnya berdegup tak menentu. Dan dengan spontan pula ia memegang dadanya.
“Hey, kamu kenapa ? Diam saja dari tadi, terus kenapa kamu pegang dada kamu ? Kamu sakit ya ?”, tanya Dokter Rangga panjang lebar dengan nada sedikit khawatir.
“Aku tidak apa-apa, Dok. Cuma ada yang aneh saja dengan jantungku. Tapi, sudahlah !”, jawab Sesa menghilangkan kekhawatiran Dokter Rangga.
”Ya sudah kalau kamu tidak apa-apa.”, lega Dokter Rangga dan kembali tersenyum.
            Dokter Rangga dan Sesa akhirnya pergi dari tempat semula dan berjalan bersama ke ruang tempat mereka bekerja. Meski posisi kerja mereka berdua sangatlah berbeda jauh. Dokter Rangga berada di ruang kerja dokter bedah, sedangkan Sesa di ruang laboratorium membantu kerja petugas disana. Di sisi lain, ada sepasang mata lekat menatap pertemuan antara Dokter Rangga dan Sesa hingga kepergian mereka. Mata itu tak henti-hentinya menatap mereka berdua. “Huh, kenapa aku cemburu lihat mereka !”, kecamuk hati orang itu yang kemudian pergi meninggalkan tempatnya itu.
            Waktu kini sudah menunjukkan pukul satu siang dan saatnya Sesa harus pergi kuliah karena ada jam praktek yang menunggunya. Dia pergi ke ruang Dokter Reza untuk meminta izin pergi kuliah padanya.
“Permisi, Dok. Boleh saya masuk ?”, ucap Sesa sembari mengetuk pinta ruang Dokter Reza.
“Masuk saja !”, suruh Dokter Reza pada Sesa. “Ada apa ?”, sambung Dokter Reza.
“Saya mau minta izin mau pergi kuliah, Dok. Ada praktek hari ini.”
“Baiklah. Pergi saja, saya izinkan. Tapi ingat, ada tugas yang menanti kamu.”
“Baik, Dok. Kalau begita saya pamit.”, ucap Sesa sambil pergi meninggalkan ruang itu.
            Setelah beberapa menit melakukan perjalanan ke kampus, akhirnya Sesa telah sampai di kelas prakteknya. Dia mengikuti praktek itu dengan sungguh-sungguh. Dia sudah berjanji pada ibunya, jika dia pasti akan lulus kuliahnya tahun ini dan jadi dokter. Jam praktek pun telah selesai dan kini saatnya Sesa pulang ke rumah. Dalam perjalanannya, dia masih memikirkan kejadian tadi pagi saat jantungnya berdegup kencang menatap senyuman Dokter Rangga. “Aku kenapa ya ? Setiap aku melihat Dokter Rangga senyum, jantungku berdegup kencang ? Apa aku suka Dokter Rangga ? Ah, gak tahu ah !”, gumam Sesa dalam hati dan segera pergi kembali ke rumah.

*****

            Hari pun telah berlalu, dan kini aktifitas sudah banyak yang menanti Sesa. Tugas kuliahnya semakin menumpuk dan tugas di tempat kerjanya juga semakin banyak. Hingga Sesa tak menyadari jika kini kondisi tubuhnya sedikit melemah. Wajah pucat pasi terlihat jelas pada Sesa. Ketika itu saat Sesa mengerjakan tugasnya di tempat dimana ia bekerja, ia  terlihat begitu lemah. Sepasang mata pun tak hentinya memperhatikan setiap tingkah Sesa di rumah sakit. Orang itu tak tega melihat Sesa yang begitu lemah. Hal yang sama juga terjadi pada hari berikutnya. Sesa terlihat semakin lemah hingga ia hampir terjatuh, namun pada akhirnya sepasang tangan menahan tubuh Sesa. Dua pasang mata saling menatap satu sama lain. Dag dig dug, jantung Sesa berdegup tak menentu menatap mata orang itu, orang yang belum pernah di lihatnya.
“Maaf.”, ucap orang itu melepas pelukannya dan tersadar dari lamunan yang kemudian membantu Sesa berdiri.
“Terima kasih ?”, ucap Sesa pada orang itu.
“Sama-sama. Oh ya, aku Dicky salah satu pasien disini. Kamu Sesa kan ?”, ucap orang itu memperkenalkan dirinya yang ternyata namanya Dicky.
“Kok kamu tahu nama aku ?”, tanya Sesa penasaran pada Dicky.
“Gimana aku tidak tahu, aku sering melihatmu berdua dengan kak Rangga.”, jawab Dicky dengan tertawa.
“Kak ? Maksud kamu, Dokter Rangga itu kakak kamu ?”, tanya Sesa kaget.
“Iya, dia kakak aku. Aneh kan, kakaknya dokter tapi adeknya sakit-sakitan.”
“Memang kamu sakit apa ?”, tanya Sesa kembali, dengan nada penasaran.
“Aku, aku sakit kanker hati stadium empat. Aku sudah akan mati.”, jawab Dicky dengan nada lesu.
“Hey, kamu kok ngomong begitu ? Jangan mendahului takdir Tuhan. Kamu semangat aja jalaninya, pasti kamu sembuh kok.”, ucap Sesa optimis menyemangati Dicky sembari memegang pundaknya.
“Iya, terima kasih ya ? Oh ya, kamu mau jadi teman aku ?”
“Emm, mau gak ya ?”, ucap Sesa sembari pura-pura berfikir. Wajah Dicky pun terlihat begitu lesu mendengar jawaban dari Sesa. Sesa pun hanya tersenyum melihat ekspresi Dicky. “Haha, muka kamu lucu, Dick ! Aku mau kok jadi temen kamu.”, ucap gadis cantik ini menyambung perkataan tadi.
“Begitu dong jawabnya dari tadi !”, ucap Dicky yang kemudian tersenyum manis.
Wajah pucat Sesa kembali terlihat. Sebelumnya, dia menahan sakit di kepalanya agar tidak terlihat di mata Dicky. Namun Dicky sudah mengerti sebelumnya pada kondisi Sesa yang dilihatnya. Hingga akhirnya Sesa tak kuat menahannya yang kemudian membuatnya jatuh pingsan.
            Setelah satu jam berlalu, akhirnya Sesa tersadar dari pingsannya. Dia mencoba membuka matanya dan melihat pada sekelilingnya. Terlihat ada dua orang dihadapannya. Orang itu adalah Dokter Rangga dan Dicky. Sesa pun kembali mencoba bangun dari posisi tidurnya dan berusaha untuk duduk.
“Kenapa saya ada disini, Dok ?”, tanya Sesa pada Dokter Rangga.
“Tadi kamu pingsan waktu kamu sama Dicky. Dan Dickylah yang bawa kamu ke ruang ini.”, ucap  Dokter Rangga menjelaskan pada Sesa.
“Kalau begitu, terima kasih ya Dick ?”
“Iya sama-sama. Kalau kamu kelelahan, kamu istirahat saja ? Jangan dipaksa, oke ?”,ucap Dicky sambil memberikan jempolnya.
“Oke.”, ucap Sesa tersenyum.
Rangga pun hanya dapat tersenyum melihat tingkah Dicky dan Sesa. Baru kali ini Rangga dapat melihat adiknya kembali tersenyum, setelah kejadian saat Dicky mengetahui tentang penyakitnya. Namun, ada rasa cemburu yang hadir mengganggu kebahagiaan Rangga ketika melihat itu semua, hingga akhirnya Rangga mulai tersadar dari lamunanya. Dan seketika itu pula, Rangga melihat ada darah keluar dari hidung Dicky.
“Dicky ! Hidung kamu !”, ucap Rangga yang sontak membuat Dicky dan Sesa kaget yang kemudian Dicky mengusap darah segar yang keluar itu.
Sesa pun bangun dari ranjangnya dan mengeluarkan sapu tangan dari kantongnya untuk mengelap darah Dicky yang keluar cukup banyak  itu. Entah apa yang terjadi, rasa khawatir menghantui fikiran Sesa begitu saja.
“Dicky, kamu kenapa?”, tanya Sesa khawatir.
“Aku gak apa-apa kok. Santai aja, Sa ! Ini udah biasa.”
“Dick, sepertinya kamu harus di scan lagi. Kakak khawatir kamu tambah parah.”, ucap Dokter Rangga sangat khawatir pada kondisi Dicky.
“Udahlah, Kak ! Aku gak apa-apa kok. Udah biasa seperti ini. Udah deh, jangan jadi sedih gitu. Kamu juga, Sa ! Aku gak suka ekspresi begitu !”, ucap Dicky marah-marah sambil membersihkan hidungnya.
“Iya, maaf ?”, ucap Sesa polos.
“Ya sudah, aku kembali aja deh ke kamar. Oh ya, jangan lupa istirahat, Sa ? Kamu juga Kaka Rangga ! Jangan kebanyakan kerja.”, ucap Dicky sembari pergi meninggalkan ruang tadi. “Aku pasti bisa dapatkan kamu, Sesa. Meski aku tak akan hidup lama lagi.”, ungkap Dicky dalam hatinya saat berjalan kembali ke kamar rawatnya.

****

            Dua bulan sudah berlalu dan  kini Sesa sudah semakin dekat dengan Dicky dan juga Rangga. Kuliah Sesa pun akhirnya juga sudah selesai dan kini dia sudah menjadi seorang sarjana. Dokter Reza, kepala rumah sakit dimana Sesa bekerja memutuskan untuk mengangkat Sesa menjadi pegawai tetap di rumah sakit itu. Namun, hal menyedihkan terjadi pada Dicky. Penyakit kanker hati yang dideritanya semakin parah dan sangat sulit untuk dilakukan pengobatan. Sesa semakin takut dan khawatir atas kondisi Dicky saat ini. Sesa sangat menyayangi Dicky, karena dia sudah terlanjur jatuh cinta pada Dicky meski di sisi lain Sesa tahu jika Dokter Rangga juga mencintainyanya.
            Pagi ini, Sesa telah bersiap-siap untuk berangkat kerja. Sebuah bingkai foto mengingatkannya pada seseorang yang sangat di cintainya, ibunya. Sesa tersenyum melihat foto ibunya itu. Dia memeluk erat foto itu yang kemudian meletakkannya kembali.
“Ibu, Sesa sayang ibu.”, ucap sesa saat melihat kembali foto itu.
Beberapa menit kemudian, Sesa pun telah sampai di rumah sakit tempat ia bekerja. Sebelum ia pergi ke ruang kerjanya, ia mampir dulu ke kamar Dicky. Sesa begitu tersiksa melihat Dicky yang semakin lama kondisinya semakin lemah. Sesa melihat Dicky yang sedang tertidur di kasurnya dengan berbagai alat terpasang pada tubuhnya.
“Selamat pagi, Dick ? Bagaimana keadaan kamu ?”, ucap Sesa menatap lekat wajah Dicky yang akhirnya membuat Dicky terbangun.
“Pagi juga bidadariku.”, jawab Dicky menatap Sesa.
“Kamu sudah bangun ? Maaf, aku ganggu tidur kamu ?”
“Iya, gak apa-apa. Aku senang kamu ganggu aku.”, jawab Dicky tersenyum jahil.
“Ih, aneh deh. Kamu sudah makan ?”, tanya Sesa perhatian.
“Belum, aku mau kamu yang suapin aku.”, pinta Dicky pada Sesa.
“Iya, sini aku suapin !”, sembari mengambil piring nasi yang ada di sampingnya.
Sesa pun menyuapi Dicky perlahan. Satu sendok, dua sendok, hingga lima sendok. Dicky hanya makan lima sendok. Dia sudah tidak kuat makan banyak-banyak sekarang ini.
“Sesa !”, panggil Dicky lirih.
“Iya, ada apa ?”
“Aku sayang kamu. Kamu mau gak jadi yang terakhir buat aku ?”, tanya Dicky tanpa basa-basi yang sontak membuat Sesa kaget.
“Aku, aku juga sayang kamu, Dick. Aku mau jadi yang terakhir buat kamu.”
“Terima kasih, Sesa ?”
“Iya, Dicky.”, ucap Sesa sembari meneteskan air mata bahagia sekaligus air mata kesedihan.
“Sa ?”, panggil Dicky kembali. “Aku punya surat buat kamu dan Kak Rangga. Kamu kasih ini ke Kak Rangga ya ? Tapi, kalian harus buka setelah aku tiada.”, pinta Dicky pada Sesa.
“Maksud kamu apa ? Kamu pasti sembuh. Kamu pasti bisa kuat !”, ucap Sesa menyemangati Dicky untuk kesekian kalinya.
“Semoga.”, jawab Dicky singkat sambil melemparkan senyum manisnya.
            Waktu pun telah berlalu, jam pun telah menunjukkan pukul 8 malam. Seusai jam kerja Sesa selesai, dia kembali ke kamar Dicky untuk merawatnya. Wajah Dicky terlihat sedikit cerah malam ini dan ada hal aneh pula yang tengah di rasakan Sesa. Ada hal beda saat ia menatap wajah Dicky.
“Dick, kenapa perasaan aku tidak enak ? Aku takut Dick, takut kehilangan kamu.”, gemuruh Sesa dalam hatinya.
“Sa ? Kamu kenapa ?”
“Eh, aku tidak apa-apa.”, jawab Sesa menyembunyikan kekhawatirannya.
“Sa, aku pengen lihat bintang denganmu sekarang. Kamu mau kan ?”. pinta Dicky pada Sesa.
“Iya.”, angguk Sesa menerima permintaan Dicky.
Mereka berdua pun keluar kamar dan kemudian pergi ke sebuah taman di dalam lingkungan rumah sakit. Bintang begitu terlihat jelas dari sana. Dicky dan Sesa duduk berdua di sebuah bangku sambil menatap langit. Di sisi lain, Rangga hanya dapat menatap mereka pilu. Kesedihan nampak jelas pada wajah Rangga. Dia mencoba merelakan Dicky.
“Sa, indah ya bintangnya ?”
“Iya, Dick. Indah banget.”, jawab Sesa yang kemudian air matanya menetes dengan sendirinya.
“Sa, aku pengen jadi seperti bintang-bintang itu. Aku pengen kalau aku sudah tiada, kamu masih bisa melihatku di langit bersama bintang-bintang itu.”
Tes, air mata semakin deras mengalir di pipi Sesa. Dia semakin sedih mendengar perkataan Dicky yang begitu menyayat hatinya.
“Sa, kamu janji akan ingat aku kan ? Aku mau kejujuranmu.”, pinta Dicky pada Sesa.
“Iya, aku janji Dick. Aku gak akan lupa sama kamu. Aku pasti ingat kamu, selamanya.”, jawab Sesa yang tak hentinya menangis.
“Sa, aku mau tidur di pundak kamu. Boleh kan ?”
“Iya, Dick. Kamu tidur saja. Aku akan jagain kamu.”, ucap Sesa bergetar takut.
“Aku sayang kamu.”, ucap Dicky sebelum memejamkan matanya. Terpejam, ya, mata Dicky kini sudah terpejam. Bukan untuk sementara, tapi untuk selamnya. Dicky telah pergi. Dicky telah tenang dan terlepas dari beban berat hidupnya di dunia ini. Dicky telah terbang dan bergabung bersama bintang-bintang yang telah dia impikan di langit itu. Ya, Dicky sudah tenang. Dia telah bahagia.
            Sedih, menangis, kecewa, kehilangan, itu yang sedang Sesa rasakan. Dia sudah kehilangan orang yang dicintainya untuk kedua kalinya. Dari ibunya yang sebelumnya telah pergi, dan sekarang Dicky yang telah pergi menyusul. Hanya satu doa yang ia panjatkan untuk mereka. Ia meminta agar orang yang ia sayangi selalu di lindungi dan diberi kebahagiaan disisiNya.
            Pagi telah tiba dan pemakaman Dicky telah di laksanakan. Sesa kembali melihat gundukkan tanah merah di hadapannya. Jenazah Dicky sudah ada di dalamnya. Hanya ada taburan bunga dan sebuah nisan bertuliskan nama Dicky di atas gundukkan tanah itu. Sesa teringat akan surat yang diberikan Dicky padanya dan juga pada Rangga. Mereka berdua membuka surat itu bersama yang ternyata inti dari surat mereka berdua itu sama. Surat itu berisi tentang keinginan Dicky untuk meminta Rangga sebagai penggantinya melindungi Sesa. Dicky menginginkan Sesa dan Rangga bersatu. Dengan surat itu, akhirnya mereka berdua pun mengabulkan keinginan Dicky. Sesa dan Rangga akhirnya bersatu demi tenangnya Dicky di alam sana. “Aku pasti akan menjaga Sesa, Dick ! Aku janji !”, ucap Rangga dalam hatinya sembari menatap makam Dicky dan kemudian menggenggam erat tangan Sesa. Sesa hanya dapat diam dan merelakan semuanya berjalan adanya.


~Selesai~



By :                                 
Ismiterra Cahya Pradani
@Ca_SbCm                     

Rabu, 20 November 2013

Mencintai Dalam Diam


 


            Matahari mulai menampakkan sinarnya, seakan ia mengerti apa yang akan terjadi di hari yang indah ini. Seakan dia mengerti pula apa yang ada dalam perasaanku saat ini. Afila Nurzari, itu namaku yang diberikan oleh orangtuaku. Aku terlahir dari keluarga yang sederhana, yang penuh dengan kehangatan kasih sayang. Dan aku juga memiliki seorang kakak yang sangat berarti di hidupku, namanya Rangga Nureza. Dia kakak kesayanganku.
            Pagi ini memang begitu berarti bagiku, karena hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah dengan status siswa kelas X SMA. Aku bersekolah disebuah SMA yang cukup terkenal di kota Bandung.
“Fila! Udah siap belum? Udah jam berapa ini...” seru kak Rangga sambil melihat jam dari luar kamar.
“Iya kak! Sabar sedikit kenapa, barusan siap-siap juga.” Jawabku keluar dari kamar dengan nada sedikit sewot.
“Iya maaf deh. Tapi tumben nih, adik kak Rangga kok cantik ya?”
“Iya dong, kan hari ini pertama aku masuk sekolah kak.”
“Yaudah, ayo berangkat! Udah siang nih..”
“Okke...”
            Aku pun bergegas pergi ke sekolah diantar kak Rangga. Aku dan kak Rangga satu sekolah. Dia kelas XII sedangkan aku kelas X. Beberapa menit kemudian kami pun sampai di sekolah.
“Kak, aku ke kelas dulu ya? Oh ya, kakak nanti pulang duluan aja ya?”
“Emang kenapa La?”
“Nanti aku mau lihat ekskul mading dulu, aku pengen ikutan. Boleh ya?”
“Yaudah.”
            Kami pun berpisah, karena kelas kami letaknya berlawanan arah. Aku pun mulai berjalan menelusuri lorong sekolah, namun tanpa sengaja aku menabrak seseorang. Karena kelalaianku itu, semua barang yang dibawa orang itu pun jatuh bertebaran. Aku pun membantunya dan bergegas meminta maaf padanya.
“Maaf, aku gak sengaja. Maaf banget?” sambil membereskan kertas yang berjatuhan.
“Iya gak apa-apa.” Jawab orang tersebut yang ternyata seorang laki-laki sambil membereskan kertas-kertas yang bertaburan.
            Saat aku membereskan kertas-kertas tersebut, tanpa sengaja aku membacanya dan ternyata di kertas itu bertuliskan data untuk pendaftaran menjadi anggota mading yang baru.
“Maaf kak, apa ini data untuk anggota mading yang baru?” tanyaku pada pemuda itu tanpa menoleh padanya karena masih fokus pada kertas itu.
“Iya, emang kenapa? Kamu mau ikut?” tanya pemuda itu padaku.
“Iya.” Jawabku sambil menoleh ke arah pemuda itu. Dan deg, jantungku berdegup begitu kencangnya saat aku menatap orang itu. Aku terpesona oleh ketampanannya.
“Dek!” panggilnya menyadarkan lamunanku.
“I iya kak.. Ada apa?” jawabku tersadar.
“Kalo kamu mau ikut, ini kakak kasih kamu kertasnya sekarang.” Sambil memberikan selembar kertas untuk mengisikan data diri.
“Makasih.”
“Sama-sama. Oh ya, Aku Dicky Prasetya kelas XII IPA 6.” sambil menjulurkan tangannya padaku.
“Aku Afila Nurzari kelas X3.” Jawabku padanya dan membalas uluran tangannya.
“Yaudah aku duluan ya? Sampai bertemu nanti?”
“Iya Kak.”
            Kak Dicky pun meninggalkanku untuk pergi ke kelasnya dan aku pun melanjutkan perjalananku ke kelas. Beberapa saat kemudian aku pun memasuki kelasku. X3, tulisan itu terpampang di atas pintu kelas.
            Di kelas itu pun aku mulai memiliki teman dan teman pertamaku disana adalah Nisa, lengkapnya Nisa Aini. Hobinya sangatlah unik. Ia suka mengoleksi barang-braang yang langka dan hari minggu besok dia mengajakku ke rumahnya untuk melihat koleksinya. Aku pun sangat senang dengan ajakkannya itu. Hingga tak terasa waktu kini sudah berjalan begitu cepatnya hingga akhirnya jam pulang pun telah tiba.
‘Fila, kamu setelah ini mau kemana?” tanya Nisa padaku.
“Aku mau ikutan pendaftaran ekstra mading dulu, Sa.”
“Mading? Wah berarti ketemu sama kak Dicky yang ganteng itu dong?”
“Kok kamu tau kak Dicky?”
“Afila, siapa sih yang gak tau dia. Dia itu cowok yang paling tampan di sekolah ini. Udah imut, tampan, baik, murah senyum lagi.”
“Iya sih, tadi dia juga baik banget sama aku.”
“Tadi kamu bertemu dengannya? Wah enak dong..”
“Biasa aja kali, Sa! Ah udah deh, nanti aku telat kumpulnya.”
“Yaudah sana! Sampai ketemu besok?”
“Okke...”
            Aku dan Nisa pun berpisah dan menuju tempat tujuan masing-masing. Aku berjalan menelusuri lorong sekolah menuju tempat pendaftaran anggota mading. Aku pun melihat kakakku, kak Rangga berdiri di depan ruang mading sedang mengobrol dengan kak Dicky.
“Hay, kak Rangga?” sapaku pada kakakku.
“Eh adikku tersayang.”
“Adik, Ngga?” tanya kak Dicky kebingungan pada kak Rangga.
“Iya adik, Fila ini adikku yang tadi aku ceritain mau daftar ekstra mading.”
“Oh ini, tadi aku udah ketemu sama dia.”
“Kok bisa?” tanya Rangga bingung.
“Tadi aku gak sengaja nabrak kak Dicky di depan perpus, kak.” Jawabku pada kebingungan kak Rangga.
“Yaudah kamu masuk aja! Udah mau dimulai itu!” pinta kak Dicky padaku.
“Iya kak..” jawabku pada kak Dicky dan bergegas masuk ke ruang mading.
            Acara pendaftaran anggota baru pun telah dimulai. Di dalamnya kami semua yang mendaftar mengikuti test dan juga diberi perbekalan. Akhirnya waktu pun telah cepat berlalu dan acara itu telah selesai. Aku bergegas untuk pulang karena waktu telah menunjukkan pukul 4 sore. Saat berada di depan gerbang sekolah menunggu jemputan, kak Dicky tiba-tiba sudah berada di sampingku.
“Sendirian La?” sapa kak Dicky padaku tiba-tiba.
“Eh kakak, ngagetin aja? Iya ini aku sendiri, kak Rangga gak dateng-dateng si>”
“Yaudah sabar aja? Kakak temani sampai Rangga datang ya?”
“Gak ngrepotin kak?”
“Gak apa-apa kok.”
Beberapa menit kemudian kak Rangga pun datang ,enjemputku menggunakan mobil sport putihnya. “aku dulua ya kak? Kak Rangga sudah datang, makasih udah mau nemenin aku?”
“Iya sama-sama. Hati-hati ya La?”
“Iya.” Jawabku sambil tersenyum pada kak Dicky.
“Duluan ya Dick?” pamit kak Rangga pada Kak Dicky. Dan kak Dicky pun hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya.

*****

            Tidak terasa waktu kini sangatlah cepat berlalu. Empat bulan sudah aku menjalani masa SMA. Dan aku juga sudah mulai dekat dengan kak Dicky, kakak kelas yang pertama aku kenal sekaligus pengampu dalam ekstra mading. Entah apa yang terjadi, akhir-akhir ini setiap aku dekat dengan kak Dicky , aku merasakan getaran-getaran aneh di dadaku. “Apakah benar aku suka dengan kak Dicky?” pertanyaan itu yang selalu muncul di benakku. Aku benar-benar tidak mengerti dengan semua itu.
“Dek??” panggil kak Rangga yang menyadarkan lamunanku saat aku duduk di balkon kamarku.
‘Iya kak?”
“Kamu kenapa melamun? Kakak tahu, pasti mikirin Dicky ya?” terka kak Rangga padaku.
“Ih apa si kak? Sok tau deh.” Jawabku menyangkal.
“Tapi benerkan?”
“Gak kok! Ah udah deh, bahas yang lain aja?”
“Iya deh. Oh ya, bagaimana sama artikel kamu tentang kanker itu? Jadi diterbitkan gak?”
“Jadi dong, besok udah muncul kok.”
“Yaudah, udah malem ini? Tidur sana! Biar besok gak kesiangan.”
“Oke kakak.” Jawabku tersenyum dan bergegas beralih ke tempat tidurku untuk mulai bermimpi.
            Pagi hari kini telah tiba namun nampaknya matahari enggan untuk muncul hari ini. Suasana mendung mulai menyelimuti pagi yang dingin ini. Aku bergegas bangundari tidurku dan segera bersiap untuk menjalankan aktivitasku seperti biasanya. Ku buka jendela dekan balkon kamarku. Terlihat rintik hujan mulai turun membasahi bumi.
“Yah,kok gerimis ya? Mana perasaanku aneh gini, ditambah kepikiran kak Dicky pula. Ya Allah semoga tidak terjadi apa-apa.” Lirihku sambil melihat keluar jendela.
Beberapa saat kemudian aku bergegas menemui kak Rangga untuk sarapan dan berangkat sekolah bersama.
“Pagi kakakku sayang?” sapaku pada kak Rangga.
“Pagi juga, adekku. Sarapan dulu cepet? Nanti keburu siang?”
“Iya kak.”
            Akupun telah selesai sarapan dan bergegas berangkat ke sekolah meski gerimis membasahi bumi. Kak Rangga mulai melajukan mobilnya dengan santai dan tidak tergesa. Namun dalam perjalanan, aku melihat seseorang yang sepertinya aku kenal di sebuah halte bis.“Itu bukannya kak Dicky ya? Tapi sama siapa?” tanyaku dalam hati. Aku pun berhenti memperhatikan mereka, karena kak Rangga mulai cepat melajukan mobilnya. Hingga sesampainya di sekolah, aku berlari menuju ke kelas untuk menanyakan sesuatu pada Nisa yang kini menjadi sahabatku.
“Nisa!” panggilku pada sahabatku itu.
“Adaapa si La? Main teriak-teriak aja?”
“Aku mau tanya sama kau!”
“Tanya apa?”
“Tadi waktu di jalan, aku melihat kak Dicky sama seorang perempuan. Kamu tahu?”
“Emm, akhirnya kamu lihat juga La?”
“Maksud kamu?” tanyaku sedikit kebingungan.
“Perempuan yang bersama kak Dicky itu namanya kak Angel. Dia pacar kak Dicky.”
“Pa pacar Sa?” tanyaku kaget dan sedikit tidak menyangka.
“Iya, mereka sudah pacaran 2 minggu ini.”
            Setelah mendengar pernyataan Nisa, aku merasa sedikit syok. Hatiku serasa hancur berkeping-keping. Karena apa? Karena aku suka dan jatuh cinta pada kak Dicky. Aku sungguh lemas terkulai, aku tak tahu harus berbuat apa lagi. Dan tak terasa pula, air mataku tiba-tiba mengalir di pipiku.
“Kamu yang sabar ya La? Aku Yakin jika kalian berjodoh pasti akan bertemu.”
“Iya Sa. Aku gak apa-apa kok.” Jawabku masih tertunduk lemas setelah mendengar semuanya.

*****

            Sebulan sudah kejadian itu terlewati. Aku masih benar-benar sakit menerima kenyataan pahit itu. Dan sejak kejadian itu pula aku sedikit menjauh dari keberadaan kak Dicky. Mungkin ia bingung dengan sikapku yang begini, namun beginilah adanya aku sekarang.
            Sore itu di sebuah taman di belakang sekolah, aku sedang duduk sendiri menatap layar laptopku sambil menuliskan isi hatiku di dalamnya. Namun aku merasa ada seseorang berdiri di belakangku. Aku pun menengoknya dan sedikit tak menyangka dengan apa yag ada di hadapanku. Kak Dicky, ya orang itu kak Dicky.
“Kakak? Sejak kapan di situ?”
“Sejak tadi, ya sekitar 10 menitan.”
“Oh, kakak mau duduk di sini? Kalau begitu aku pergi saja.” Jawabku sambil pergi dan melangkahkan kakiku. Namun ada sesuatu yang menahanku. Deg, jantungku srasa berhenti. Kak Dicky menahan tanganku denan tngannya agar tidak jadi pergi.
“Kak, tolong lepas? Nanti pacar kakak melihat.”
“Gak La, Angel udah pulang. Kakak mau ngobrol sama kamu, boleh?” pinta kak Dicky.
“Iya kak.” Jawabku pada permintaannya yang kemudian kembali duduk di tempat tadi.
“Kamu kenapa si? Kok akhir-akhir ini kamu menjauh? Kamu marah sama kakak?”
“Haha, buat apa aku marah kak?” jawabku tertawa, namun menyembunyikan semua sakit hatiku.
“Tapi kenapa kamu beda La? Kakak tu sayang sama kamu. Jangan jauhi kakak begini !”
Deg, jantungku terasa berdetak dengan kencangnya. Seakan tak percaya dengan apa yang diucapkan kak Dicky tadi. Sayang, namun sebatas apakah sayang itu? Hati aku hanya dapat bertanya-tanya.
“Maksud kakak?”
“Aku sayang kamu, Fila! Aku udah anggap kamu seperti adik aku sendiri. Kalau kamu menghindar seperti ini, ada sesuatu yang menghilang dari hidupku, La! Tolong jangan jauhi kakak lagi?” pinta kak Dicky panjang lebar.
“Jadi sayang kamu sebatas kakak adik, kak?” tanyaku dalam hati.
“Afila! Jawab kakak?” ucapa kak Dicky menyadarkan lamunanku.
“Emm iya kak, aku gak menjauh kok. Tenang aja?”
“Beneran? Janji?” menjulurkan jari kelingkingnya di hadapanku.
“Iya, janji.” melingkarkan jari kelingkingku di kelingkingnya.
“Oke, kalau begitu kakak pamit dulu ya? Ada tugas yang menunggu. Sampai bertemu lagi adikku sayang?”
“Iya kak.” Jawabku dengan nada lirih.
            Dan ternyata benar, aku telah salah mengartikan semua perhatian yang telah di berikan oleh kak Dicky padaku. Ku kira dia menyukaiku seperti aku menyukainya. Namun ternyata, dia hanya menganggapku sebatas adik. Namun aku selalu ingat dengan perkataan Nisa, bahwa jika dia memang jodohku, suatu saat nanti pasti kita akan bertemu. Sakit yang kini tersisa di hatiku, namun ada rasa sedikit lega saat dia menganggapku seperti adiknya. Namun tetap saja kini aku mencintai kak Dicky dalam diam.


~Selesai~



buah karya :
Ismiterra Cahya Pradani
@Ca_SbCm

;;

By :
Free Blog Templates