Kamis, 05 Maret 2015

Cerpen - Demi Kamu



Semilir angin berhembus menerpa dedaunan. Embun pagi sudah  mulai larut dalam balutan mentari yang cerah. Terasa dingin, angin menerpa tubuh hingga menusuk ke dalam kulit putih pemuda tampan ini. Adit Pradana, nama lengkap pemuda ini. Dia masih duduk di bangku SMA kelas XII di sebuah SMA swasta yang cukup terkenal di Jakarta. Adit memiliki seorang kekasih yang sangat disayanginya, Mira Arinka nama lengkapnya. Mereka sudah cukup lama berpacaran, kurang lebihnya 2 tahun.
            Di dalam lingkungan sekolah, keberadaan Adit dan Mira cukup dikenal oleh teman-temannya. Mereka memiliki prestasi yang cukup baik di sekolah itu. Mira berprestasi di bidang akademik, sedangkan Adit berprestasi di bidang nonakademiknya. Mereka berdua dikenal sebagai pasangan yang sangat cocok dan harmonis, tanpa pernah ada masalah di antara keduanya.
            Pagi ini, Adit telah bersiap untuk pergi ke sekolah. Ia menaiki motor besarnya dan bergegas menjemput Mira ke rumahnya. Meski udara dingin menyelimuti tubuhnya, Adit tetap bertekad untuk menaikki motor besarnya itu. Setelah lima belas menit berlalu, akhirnya Adit telah sampai di depan sebuah rumah yang sangat besar. Rumah itu seperti istana yang sekelilingnya di hiasi berbagai tanaman indah yang membentuk sebuah taman. Adit mulai memasuki halaman rumah itu dan membuka helmnya. Dilihatnya seseorang di depan pintu yang berdandan cukup cantik hari ini. Siapa lagi jika bukan Mira, kekasih hatinya.
“Pagi putri cantik ?”, sapa Adit dengan tersenyum manis.
“Pagi juga pangeran tampan.”, balas Mira yang tersenyum pula.
“Sudah siap ? Ayo kita berangkat !”, ajak Adit dengan lembut.
“Oke.”, singkat Mira yang kemudian bergegas naik ke motor besar Adit. Dan akhirnya mereka berdua pun berangkat bersama ke sekolah. Mereka berdua merupakan anak yang sangat rajin. Meskipun mereka pacaran, mereka juga masih bersaing dalam mendapatkan nilai terbaik.
            Cukup lima belas menit waktu bagi Adit mengendarai motornya untuk pergi ke sekolah. Setelah sampai, mereka berdua berjalan bersama menuju kelasnya. Dan kebetulan pula, mereka itu satu kelas. Beberapa menit kemudian, bel mulai pelajaran pun berbunyi. Pelajaran hari ini dimulai dengan pelajaran matematika. Pelajaran ini merupakan mata pelajaran yang sangat disukai Mira. Begitu juga dengan Adit dia juga lumayan menyukai pelajaran ini.
            Waktu pun semakin berlalu, jam pulang sekolah akhirnya tiba. Adit dan Mira mulai membereskan barang mereka dan bergegas pergi ke rumah Mira untuk belajar bersama. Dengan cepat dan hati-hati, Adit mengendarai motornya menuju rumah Mira. Tangan halus nan lembut tak hentinya melingkar pada pinggang Adit. Perasaan nyaman telah mengiringi mereka berdua.
            Tak terasa, akhirnya mereka pun sampai pada tujuannya. Motor Adit mulai memasuki halaman rumah Mira yang seperti Istana itu.
“Ayo Dit, kita masuk !”, ajak Mira sembari menarik tangan Adit dengan lembut.
“Iya, Mira sayang. Sabar dulu kenapa ?”, ucap Adit menenangkan Mira dan meletakkan helmnya.
Mereka pun memasuki sebuah ruang yang cukup besar dan tenang untuk dijadikan sebuah tempat belajar.
“Bi Sari, ambilin minum ya !”, teriak Mira menyuruh pembantunya mengambilkan minum.
“Ini minumnya, Non !”, ucap Bi Sari sambil meletakkan dua jus alpukat
            Adit meminum setengah gelas jus alpukat yang baru saja diletakkan oleh bi Sari dan memulai aktifitasnya untuk belajar bersama Mira.
“Sayang, sudah tidak terasa ya ?”, sela Mira
“Apanya?”, Adit bertanya kebingungan
“Tidak terasa sebulan lagi kita ujian..”, jawab Mira singkat
“Iya. Terus kenapa?”, Adit bertanya untuk kedua kalinya
“Kamu jadi nerusin kuliah di sini ?”, tanya Mira seraya menunjuk sebuah brosur universitas.
“Iya. “, ucap Adit singkat yang kemudian meneruskan belajarnya.
            Singkatnya jawaban Adit membuat Mira sedikit gelisah. Mira menerka dalam hati, apakah Adit sudah mendengar keputusan kepala sekolah, memberinya beasiswa untuk melanjutkan sekolahnya di Oxford University.  Mira sebenarnya tidak ingin menutupi soal beasiswa itu kepada Adit. Namun, Mira juga tak menyangkal jika kebanyakan teman-temannya juga sudah tahu mengenai hal itu.

*****
           
Waktu semakin cepat berlalu, kini Adit dan Mira sudah melewati masa ujian mereka. Sekarang saatnya mereka berfikir untuk studi lanjutannya. Masih ada fikiran yang mengganjal di otak Mira. Ia belum berani mengutarakan tentang rencananya melanjutkan kuliah di Oxford University pada Adit.
            Sore itu ketika Adit dan Mira sedang berjalan-jalan di sebuah taman, Mira memutuskan untuk mencoba bicara jujur pada Adit tentang rencana kuliahnya itu. Ada rasa takut menghantui Mira, namun ia tangkis semua itu dengan sebuah keberanian.
“Adit...”, panggil Mira pada kekasihnya itu.
“Ada apa ?”, tanya Adit lembut.
“Aku mau bicara jujur sama kamu.”
“Tentang apa ?”, tanya Adit penasaran.
“Aku... aku tak bisa meneruskan kuliah disini. Aku harus kuliah di luar negeri, Dit. Aku mendapat beasiswa untuk kuliah di Oxford University.”, ucap Mira dengan nada sedikit bergetar karena ia takut jika Adit kecewa padanya.
“Oh, begitu.”, ucap Adit datar dengan mimik sedikit kecewa.
“Kamu marah ya ? Maafin aku.”
“Sudahlah, buat apa aku marah ? Semua tidak akan merubahnya kan ? Aku bangga kok, kalau kamu bisa kuliah disana. Namun, ada sebuah kekecewaan yang mengganjalku.”, ucap Adit dengan tenang.
“Apa itu ?”, tanya Mira antusias.
“Mengapa kamu tidak bicara padaku sejak lama, Mira ? Sedangkan aku sudah tahu sebelumya dari teman-teman, sebelum kamu bicara padaku.”, jelas Adit dengan lembut.
“Maafkan aku ?”, jawab Mira yang tertunduk lesu.
“Ya sudahlah. Semua juga sudah terjadi. Aku cuma bisa senang mendengarnya. Kapan kamu akan berangkat ?”, tanya Adit sembari mengusap lembut rambut Mira.
“Minggu depan.”, jawab Mira sembari melempar senyumnya.
“Kalau begitu, sebelum kamu pergi tinggalkan aku, lebih baik sekarang kita bermain sepuasnya. Bagaimana ?”
“Baiklah.”
            Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk bermain bersama melepas semua kekecewaan yang ada. Meski masih ada rasa kecewa itu di hati Adit, namun ia tetap simpan semua itu dan coba melupakannya.
            Seminggu sudah waktu telah berlalu, dan kini Mira tengah bersiap untuk berangkat ke tempat kuliahnya, yaitu di Oxford University. Satu jam lagi pesawat yang ditumpangi Mira akan lepas landas. Adit beserta teman lainnya termasuk kepala sekolah SMA Mira, setia menunggui kepergian Mira. Tangan Adit tak hentinya menggenggam erat tangan Mira. Adit serasa berat jika harus melepaskan kekasihnya itu untuk pergi. Namun apa daya, takdir mungkin sudah berkehendak lain.
“Adit, maafkan aku harus pergi meninggalkanmu ? Tapi aku janji, aku aka setia buat kamu disana.”, ucap Mira sebelum masuk ke pesawatnya.
“Iya, Mira. Tidak apa-apa. Aku juga berjanji akan setia buat kamu disini. Kamu jangan bandel ya disana ? Aku sayang kamu !”, ucap Adit sembari membelai lembut rambut Mira.
“Aku juga sayang kamu.”, jawab Mira melemparkan senyum termanisnya. Dan kini saatnya Mira harus berpisah dengan orang yang disayanginya, seperti Adit dan orang tuanya beserta teman-temannya yang kemudian bergegas masuk ke dalam pesawat yang di tumpanginya, karena pesawat akan lepas landas kurang lebih lima belas menit lagi.
            Rasa sakit, sedih, dan kecewa terajut dalam hati Adit. Kecamuk air mata menghiasinya saat ini. Ada rasa tak rela Adit melepas kepergian Mira. Namun apa daya, semua ini memanglah harus terjadi. Adit harus mengerti dan menyadari jika pendidikan Mira disana juga sangatlah penting. Yang pasti, Adit telah berjanji pada Mira jika ia akan setia menunggu Mira disini, menjaga hatinya. Sampai suatu saat nanti Mira akan kembali lagi padanya.


~Selesai~





Karya :             
Ismiterra Cahya Pradani
@Ca_SbCm         


0 Comments:

Post a Comment



By :
Free Blog Templates