Selasa, 10 Maret 2015
Sore ini, terlihat disana langit mendung
menyelimuti bumi, terasa dingin... cukup menusuk sampai ke tulang rusuk. Terdengar
pula gemuruh guntur menderu, hingga mampu membuat rintik menjadi hujan yang
berangsur turun ke bumi. Ya, hujan itu mampu membuat basah dedaunan dan rerumputan,
hingga Alang-alang pun tak mampu lagi berdiri. Dia hanya dapat merunduk,
menerima kenyataan yang saat ini di hadapi. Seperti aku, yang hanya mampu
menerima apapun semua yang diberikan-Nya dan yang digariskan-Nya. Tapi,
bukankah ada yang bilang, “Takdir tidak selamanya akan buruk, jika kamu mampu
melawan dan mengubah takdir buruk itu menjadi takdir yang baik, bukankah semua
akan menjadi indah dan nyaman untuk di nikmati”. Oleh karenanya, aku akan berusaha menikmati setiap detik apa yang telah
diberikan-Nya untukku, dalam setiap hembusan nafasku, tak akan ku coba mengeluh
pada-Nya. Namun, ketika sebuah ingatan masa lalu tentang cinta dan persahabatan
itu muncul, rasa sakit yang hanya mampu ku pendam itu selalu muncul. Dia orang
yang aku cinta, aku hanya mampu menatapnya dari jauh. Dia mungkin telah bahagia
sekarang, bersama orang yang paling aku sayang yang sudah ku anggap seperti
saudara bagiku.
“Tunggu, bukankah hujan juga sebagai saksiku
dulu ? Ketika aku memutuskan untuk menjauh dari Reza dan membiarkaan dia
bersama Citra.”, terbesit pertanyaan itu dalam hatiku. Sakit, rasa sakit
itu kembali menderu dalam jiwaku. Aku tak mampu atau bahkan mungkin tak akan
pernah mampu melupakan Reza, orang yang benar-benar aku cinta kala itu,di masa
SMA.
“Hmmm,
sudahlah Rista kamu harus lupain Reza. Kalau kamu ingat-ingat terus, kapan kamu
bisa dengan bebas menikmati hidup. Kamu harus bisa hilangin semua pikiran
tentang dia. Ayo kamu pasti bisa, dia udah bahagia.”, ucapku menyemangati diri
sendiri yang sebenarnya sangat lemah ini. Rista adalah namaku, Arista Febriana
lengkapnya.
“Semoga aku sanggup Tuhan.”, doaku dalam
hati sembari tersenyum. Hingga tak terasa lama-lama aku mulai memejamkan mataku
dan tertidur pulas sembari menikmati dinginnya malam ini.
***
Pagi
ini, di hari Senin, ku mulai aktifitas baru yang super sibuk, yaitu sebagai
seorang mahasiswa dan juga pegawai magang di sebuah sanggar musik. Sekarang aku
duduk di bangku kuliah semester 7 jurusan seni musik di salah satu universitas
yang cukup terkenal di Jawa Tengah. Hmm.. cukup melelahkan bagiku, karena aku
harus mampu membagi waktu kapan aku harus kuliah, bekerja, dan membuat laporan
skripsi.
“Rista,
sarapan pagi sudah siap. Turun segera sayang !”, seru ibuku dari balik pintu
kamar.
“Iya
bu, sebentar lagi Rista selesai beres-beresnya. Ibu tunggu saja dulu di meja
makan, Rista menyusul.”, jawabku sambil membereskan semua buku-buku dan
berdandan supaya rapi.
Beberapa
menit kemudian aku pun keluar dari kamar dan bergegas untuk sarapan bersama ibu
beserta adik laki-laki dan ayahku di ruang makan. Aku anak pertama dari dua
bersaudara, adikku masih duduk di bangku SMA kelas 2. Karena aku anak tertua
dirumah, jadi aku yang paling diandalkan di keluarga ini. Keluarga kami
termasuk keluarga kecil, meski rumah kami cukup sederhana, tapi kebahagiaan
selalu menyelimutinya.
“Ibu,
Ayah, Rista berangkat dulu ya ? takut kesiangan ini. Nanti kalau Rista pulang
agak terlambat, Rista telepon rumah.”, pamitku pada orang tuaku.
“Ya
sudah, hati-hati ya sayang.”, pesan dari ibuku.
“Angga
juga sekalian berangkat sama kakak, bu.”, ucap adikku dan kemudian mengikuti
langkahku pergi.
Semangat
melanda hariku pagi ini, senyuman selalu mengembang di wajah yang cukup imut
ini bagiku. Mensyukuri adalah salah satu caraku untuk hidup bahagia.
“Sudah
sampai. Cuss turun dek, ntar kamu telat lagi. Bentar lagi bel mau bunyi tuh.”,
suruhku pada Angga agar segera turun dari mobil dan masuk ke sekolahnya.
“Iya
kakak Rista yang bawel!! Angga turun nih. Oh ya kak, hati-hati dijalan, jangan
ngebut.”, pesan Angga padaku.
“Iya
adekku yang super cerewet !! udah ah sana masuk.”
Aku pun bergegas pergi
ke kampus untuk mengambil data yang harus di bawa pada pemagangan kali ini.
Hingga tak terasa waktu begitu cepat berlalu dan akhirnya aku sampai juga di
kampus. Aku bergegas ke fakultas karena waktu sudah menunjukkan pukul 07.30,
karena dosen pembimbing sudah menunggu di kelas.
Setengah jam sudah
berlalu dan sekarang aku sudah mendapat data-data yang diperlukan untuk
keperluan magangku. Kini saatnya aku harus pergi ke tempat pemagangan. “Rista
!!”, terdengar seseorang memanggilku dari belakang. Akupun menoleh dan melihat
siapa yang memanggilku. Dan ternyata orang itu adalah Ilham, teman satu kelasku
dan cukup akrab denganku.
“Oh kamu, Ham. Ada apa
kamu memanggilku?”, tanyaku pada Ilham.
“Kamu mau ke tempat
pemagangan kan? aku boleh bareng kamu gak? Kan kita satu tempat, lagian aku
lagi gak bawa motorku.”, pintanya padaku.
“Oh, boleh kok boleh,
tapi kamu yang nyetir ya?”, jawabku sambil tersenyum. Ilham hanya diam dan
menatap dengan tajam wajahku saat tersenyum.
“Cantiknya.”, ucap
Ilham yang tak lepas memandangi wajahku. “Kamu ngomong apa Ham?”, tanyaku yang
tak jelas mendengar ucapan ilham tadi.
“Eh, enggak-enggak, ayo
kita berangkat.”,jawab Ilham gugup dan tersadar dari lamunannya.
Akhinya kami berdua pun
berangkat bersama ke tempat pemagangan. Ilham yang mengemudikan mobilku, tapi
aku merasa aneh karena dia selalu mencuri tatapan kearahku. Aku tak tahu maksud
dari kelakuannya itu. Namun aku hanya membiarkannya , cukup dengan positif
thingking saja.
Beberapa menit kemudian
kamipun telah sampai di tempat itu. Kam bergegas turun dan mencari rungan
dimana pemimpin magang kami berada. Setelah kami bertemu, kami di tempatkan di
berbed kelas. Aku ada di kelas piano dan Ilham ada di kelas gitar. Aku berjalan
sendiri mencari ruang dimana aku mengajar dan akhirnya ketemu. Namun, aku
mendengar sebuah dentuman piano mngalir indah di telinga. Aku penasaran dan kemudian
aku bergegas masuk ke kelas itu. Dan kagetnya, aku melihat seseorang yang tak
asing lagi bagiku. Reza!! Ya itu Reza yang sedang memainkan piano dengan indah
itu.
“Re... Reza! Ngapain
kamu disini?”, tanyaku gugup sekaligus campur aduk kaget.
“Rista! Kamu juga ngapain
disni?”, tanyanya balik padaku.
“A.. a ku.. aku mulai
ngajar musik di kelas ini. Kamu sendiri?”
“Sama aku juga Ris.
Mungkin kita emang ditakdirkan buat dekat dan sama-sama lagi ya.”, jawab Reza
dengan tersenyum.
Kaget.. jujur saja aku
kaget dengan ucapan Reza barusan. Tidak tahu kenapa, tiba-tiba dalam dada ku
terasa ada yang berbunyi, dag dig dug terdengar. Namun, ketika aku teringat
kembali mengenai masa lalu, rasa sakit itu kembali datang. Rasa tak rela
melepasnya kembali muncul. Tapi aku juga harus sadar, sekarang dia adalah milik
orang lain, sahabatku sendiri.
“Maksud kamu? Oh
mungkin ditakdirkan sama-sama untuk berteman lagi ya ?”, jawabku nglantur dari
pertanyaan Reza tadi dengan senyum canda.
“Emm begitu ya kamu
mengartikan..”, ucap Reza dengan nada lirih yang hampir tidak terdengar olehku.
“Maaf, kamu ngomong
apa?”
“Oh bukan apa-apa,
duduk dulu Ris! Gimana kabar kamu ris? Udah lama kita gak ketemu, emm hampir 4
tahun sepertinya, sejak kejadian itu.”, tanya Reza dengan mimik muka yang
semakin datar.
“Aku baik, Za. Emm udah lama ya ternyata.”, jawabku pura-pura
tersenyum manis dibalik tangis hati.
“Iya..”
Akhirnya dihari itu,
kami berdua saling bercakap antara satu dan lainnya. Kami berdua mengobrol
bagai sepasang kekasih yang lama terpisah dan tak bertemu. Saat itu pula aku
mencoba meluapkan rasa rinduku pada Reza yang sesungguhnya. Namun, tak sebebas
itu kata terucap. Ada tembok yang masih membatasi kami berdua.
***
Tiga bulan sudah hari
berlalu, tak terasa selama itu pula aku dan Reza bersama meski hanya ada di
dalam sanggar tempat kami berdua mengajar sebagai mahasiswa magang. Hubungan
kami pun kembali dekat selayaknya dulu kami masih SMA. Percakapan kami masih
nyambung dan hobi kami juga masihsama seperti dulu. Kami mencintai dunia musik.
Reza memiliki cita-cita untuk menjadi seorang komposer yang profesional.
Sore itu ketika aku
sudah selesai mengajar vokal di kelas piano, tiba-tiba saja dari belakang Reza
mendatangiku. Kaget yang aku rasakan saat itu, hingga tak sengaja aku melempar
semua buku-buku yang ada di tanganku. Bruukkk...
“Reza!! Kamu bikin
kaget aja deh. Kan lihat buku ku jatuh semua.”, omelku pada Reza yang kemudian
mulai mengambil satu per satu buku yang berserakan itu. Deg.. jantungku terasa
seperti berhenti berdetak ketika tanganku dan tangan Reza bersentuhan saat
mengambil buku. Saling menatap, reflek kami berdua melakukan itu. Mata kami
saling berpadu, namun dengan cepat aku tersadar atas kejadian itu.
“emm maaf Ris, aku gak
bermaksud.”, ucapnya padaku
“Iya gpp, makasih udah
bantuin aku.”, ucapku pada Reza.
“He.em.. oh ya, kamu
mau gak dinner sama aku Ris?”, tanya Reza padaku dan mampu membuat aku
tercengang kaget.
“Haa?? Kamu gak salah
ngajak aku Za?”, tanyaku memastikan atas apa yang diucapkan Reza.
“Aku gak salah ajak.
Kamu mau ya?”
“Tapi....”, jawabku
sedikit ragu karena tiba-tiba saja aku terpikir tentang Citra.
“Gak ada tapi-tapian.
Besok malam aku jemput kamu dirumah jam 7. Siap-siapya? Jagan lupa dandan
cantik.”, pesan Reza padaku dan bergegas pergi meninggalkanku.
Rasa tak percaya maih
saja menghantui otakku. Aku masih bingung mengapa tiba-tiba saja ia mengajakku
untuk dinner. Aku berpikiran bagaimanakah perasaan Citra jika tahu Reza
mengajakku untuk dinner bersamanya. Entahlah, biarkan waktu yang akan menjawabnya
besok.
Waktu bergulir begitu
cepatnya, hari itu telah dilalui dan kini tiba saatnya untuk pertemuanku dengan
Reza. Hari itu hujan turun menyelimuti kota, cukup dingin menusuk sampai ke
tulang rusukku. Seperti hatiku, yang sedang diselimuti oleh mendung rasa
penasaran. Aku tak tahu apa yang akan Reza bicarakan pada dinner itu. Aku sudah
bersiap dan berdandan cantik. Gaun biru yang indah nan anggun sudah melekat di
tubuhku. Dan waktu kini sudah menunjukkan pukul 7 malam. Aku bersiap keluar
rumah dan menemui Reza yang sudah menungguku disana.
“Hay, maaf udah nunggu
lama a?”< ucapku dengan lembut.
“Gak kok, baru aja aku
sampai. Emmm Ris, kamu cantik banget malam ini.”, puji Reza padaku dan mampu
membuat aku malu saat itu juga.
Kami pun bergegas masuk
ke mobil. Reza dengan lembut membukakan pintu mobilnya untukku. Aku mulai
melayang, aku serasa putri raja yang sedang dijemput oleh pangerannya. Senyum mengembang
di bibirku dan perasaan itu mulai muncul kembali mengisi relung hati seperti
dulu, ketika aku masih berpacaran dengannya. “Tuhan.. mengapa engkau berikan perasaan ini kembali hidup? Aku takut
Tuhan jika menyakiti orang lain, terlebih lagi sahabatku.”, ucapku dalam
hati. Diam, aku hanya bisa diam dan terus bertanya-tanya dalam hati, apa yang
akan terjadi nantinya.
Tak terasa akhirnya
kami pun sampai di tempat tujuan kami. Di sebuah restoran yang desainnya cukup
elegan dan romantis. Di dekat jalan masuk terdapat banyak bunga dan
lampion-lampion yang indah. Sungguh romantis malam itu terasa bagiku. Aku masih
tak tau apa yang sebenarnya Reza ingin lakukan. Setelah berjalan tidak terlalu
jauh, kami sampai di sebuah altar berhiasan cukup luas dimana kami akan makan.
Reza membukakan kursi untukku dan memberikan senyum indahnya tepat di depan
wajahku. Dag dig dug jantungku berdegup lagi.
“Bagaimana Ris, kamu
suka tempat ini?”, tanyanya dengan lembut.
“Emm iya, aku suka.
Sangat indah. Tapi aku masih bingung kenapa kamu lakuin semua ini.”, ucapku
dengan penuh rasa penasaran.
“Sini ikut aku!”, ajak
Reza menggandeng tanganku dengan mesra
dan membawaku ke sebuat lingkaran lilin yang berhiaskan bunga, sungguh begitu
romantis.
“Rista, aku mau ngomong
jujur sama kamu. Aku masih sayang kamu Ris, aku gak bisa lupain kamu semenjak
kita pisah dulu. Aku Cinta Kamu Rista. Kamu mau gak mengulang masa indah kita
dulu dan menjadi istriku nanti?”, ucapnya dengan jujur dan lantang sembari
mengeluarkan sebuah cincin permata yang begitu indah.
Kaget, jujur saja
seketika aku kaget saat itu. “Bukankah kamu bersama Citra, Reza? Aku tak mau
menyakitinya. Dia sahabat terbaikku. Aku sayang dia.”, ucapku sekaligus meminja
kejelasannya.
“Aku sudah tidak
bersamanya semenjak 2 tahun yang lalu, saat kita sama-sam akan kuliah. Saat itu
Dia tahu segalanya tentang kita dulu. Dia tak ingin menyakitimu lebih dalam
karena keegoisannya. Dia memutuskan untuk pergi dariku dan memilih orang lain
yang tulus sayang sama dia. Rasti, percayalah padaku, aku masih sayang kamu
dari dulu.”, ucap Reza menjelaskan apa yang terjadi dahulu. “Dan lihatlah Ras,
bukankah hujan selalu menjadi saksi kita? Ketika kita mulai bersama, terpisah,
dan saat ini juga aku ingin hujan menjadi saksi kembalinya cinta suci kita
Rasti. Jadi, aku mohon sama kamu, kembalilah bersamaku dan kita jalani hidup
bahagia kita.”
Diam, aku tak mampu
berkata sedikitpun saat itu. Air mata mengalir deras di pipiku. Aku tak
menyangka jika Reza sebegitu inginnya kembali lagi padaku, membuat masa-masa
indah seperti dahulu. Seperti aku yang sesungguhnya benar-benar masih
mencintainya. Tak ingin berpisah lagi darinya.
“Rezaa.. maaf aku..”,
ucapku menggantungkan jawabanku dan membuat mimik wajah Reza berubah sedikit
kecewa. “Akuu... Aku gak bisa hidup tanpa kamu Za. Aku sayang kamu. Aku cinta
kamu. Aku gak mau kehilangan kamu lagi. Aku mau menjalin kembali hubungan
denganmu, aku ingin bahagia denganmu.”, jawabanku disertai dengan tangisan
bahagia danmemeluk erat Reza.
“Makasih Ris, makasih
banget. Aku sayang kamu, aku gak akan sia-sia in keberadaan kamu Ris. I love you Ris, I Love Youu..”, ucap Reza
begitu bahagia sembari ia memasangkan cincin ke jari tanganku dan mencium
keningku. Indah, sungguh indah terasa masa itu terulang kembali.
Terima kasih Reza,
telah hadir kembali menemani hidupku dan menghapus kesunyian hatiku. Aku
menyayangimu dengan suci, aku setia untukmu dan hanya untukmu. Dan terima kasih juga untuk hujan yang telah
menjadi saksi cinta kami berdua untuk kesekian kalinya. Aku menyayangi
ciptaanmu itu Tuhan. Semoga kita akan slalu bersama, meski badai akan selalu
menghantui setiap perjalanan cinta kita. Cinta kami untuk selamanya. I Love You
Reza...
~selesai~
Karya :
Ismiterra Cahya Pradani
@Ca_SbCm
Jangan lupa like sama komentarnya :)
follow juga twitternya teman
Kamis, 05 Maret 2015
Semilir angin berhembus
menerpa dedaunan. Embun pagi sudah mulai
larut dalam balutan mentari yang cerah. Terasa dingin, angin menerpa tubuh
hingga menusuk ke dalam kulit putih pemuda tampan ini. Adit Pradana, nama
lengkap pemuda ini. Dia masih duduk di bangku SMA kelas XII di sebuah SMA
swasta yang cukup terkenal di Jakarta. Adit memiliki seorang kekasih yang
sangat disayanginya, Mira Arinka nama lengkapnya. Mereka sudah cukup lama
berpacaran, kurang lebihnya 2 tahun.
Di
dalam lingkungan sekolah, keberadaan Adit dan Mira cukup dikenal oleh
teman-temannya. Mereka memiliki prestasi yang cukup baik di sekolah itu. Mira
berprestasi di bidang akademik, sedangkan Adit berprestasi di bidang
nonakademiknya. Mereka berdua dikenal sebagai pasangan yang sangat cocok dan
harmonis, tanpa pernah ada masalah di antara keduanya.
Pagi
ini, Adit telah bersiap untuk pergi ke sekolah. Ia menaiki motor besarnya dan
bergegas menjemput Mira ke rumahnya. Meski udara dingin menyelimuti tubuhnya,
Adit tetap bertekad untuk menaikki motor besarnya itu. Setelah lima belas menit
berlalu, akhirnya Adit telah sampai di depan sebuah rumah yang sangat besar.
Rumah itu seperti istana yang sekelilingnya di hiasi berbagai tanaman indah
yang membentuk sebuah taman. Adit mulai memasuki halaman rumah itu dan membuka
helmnya. Dilihatnya seseorang di depan pintu yang berdandan cukup cantik hari
ini. Siapa lagi jika bukan Mira, kekasih hatinya.
“Pagi putri cantik ?”, sapa Adit dengan
tersenyum manis.
“Pagi juga pangeran tampan.”, balas Mira
yang tersenyum pula.
“Sudah siap ? Ayo kita berangkat !”,
ajak Adit dengan lembut.
“Oke.”, singkat Mira yang kemudian
bergegas naik ke motor besar Adit. Dan akhirnya mereka berdua pun berangkat
bersama ke sekolah. Mereka berdua merupakan anak yang sangat rajin. Meskipun
mereka pacaran, mereka juga masih bersaing dalam mendapatkan nilai terbaik.
Cukup
lima belas menit waktu bagi Adit mengendarai motornya untuk pergi ke sekolah.
Setelah sampai, mereka berdua berjalan bersama menuju kelasnya. Dan kebetulan
pula, mereka itu satu kelas. Beberapa menit kemudian, bel mulai pelajaran pun
berbunyi. Pelajaran hari ini dimulai dengan pelajaran matematika. Pelajaran ini
merupakan mata pelajaran yang sangat disukai Mira. Begitu juga dengan Adit dia
juga lumayan menyukai pelajaran ini.
Waktu
pun semakin berlalu, jam pulang sekolah akhirnya tiba. Adit dan Mira mulai
membereskan barang mereka dan bergegas pergi ke rumah Mira untuk belajar
bersama. Dengan cepat dan hati-hati, Adit mengendarai motornya menuju rumah
Mira. Tangan halus nan lembut tak hentinya melingkar pada pinggang Adit.
Perasaan nyaman telah mengiringi mereka berdua.
Tak
terasa, akhirnya mereka pun sampai pada tujuannya. Motor Adit mulai memasuki
halaman rumah Mira yang seperti Istana itu.
“Ayo Dit, kita masuk !”, ajak Mira
sembari menarik tangan Adit dengan lembut.
“Iya, Mira sayang. Sabar dulu kenapa ?”,
ucap Adit menenangkan Mira dan meletakkan helmnya.
Mereka pun memasuki sebuah ruang yang
cukup besar dan tenang untuk dijadikan sebuah tempat belajar.
“Bi Sari, ambilin minum ya !”, teriak
Mira menyuruh pembantunya mengambilkan minum.
“Ini minumnya, Non !”, ucap Bi Sari
sambil meletakkan dua jus alpukat
Adit
meminum setengah gelas jus alpukat yang baru saja diletakkan oleh bi Sari dan
memulai aktifitasnya untuk belajar bersama Mira.
“Sayang, sudah tidak terasa ya ?”, sela
Mira
“Apanya?”, Adit bertanya kebingungan
“Tidak terasa sebulan lagi kita
ujian..”, jawab Mira singkat
“Iya. Terus kenapa?”, Adit bertanya untuk
kedua kalinya
“Kamu jadi nerusin kuliah di sini ?”,
tanya Mira seraya menunjuk sebuah brosur universitas.
“Iya. “, ucap Adit singkat yang kemudian
meneruskan belajarnya.
Singkatnya
jawaban Adit membuat Mira sedikit gelisah. Mira menerka dalam hati, apakah Adit
sudah mendengar keputusan kepala sekolah, memberinya beasiswa untuk melanjutkan
sekolahnya di Oxford University. Mira
sebenarnya tidak ingin menutupi soal beasiswa itu kepada Adit. Namun, Mira juga
tak menyangkal jika kebanyakan teman-temannya juga sudah tahu mengenai hal itu.
*****
Waktu semakin cepat
berlalu, kini Adit dan Mira sudah melewati masa ujian mereka. Sekarang saatnya
mereka berfikir untuk studi lanjutannya. Masih ada fikiran yang mengganjal di
otak Mira. Ia belum berani mengutarakan tentang rencananya melanjutkan kuliah
di Oxford University pada Adit.
Sore
itu ketika Adit dan Mira sedang berjalan-jalan di sebuah taman, Mira memutuskan
untuk mencoba bicara jujur pada Adit tentang rencana kuliahnya itu. Ada rasa
takut menghantui Mira, namun ia tangkis semua itu dengan sebuah keberanian.
“Adit...”, panggil Mira pada kekasihnya
itu.
“Ada apa ?”, tanya Adit lembut.
“Aku mau bicara jujur sama kamu.”
“Tentang apa ?”, tanya Adit penasaran.
“Aku... aku tak bisa meneruskan kuliah
disini. Aku harus kuliah di luar negeri, Dit. Aku mendapat beasiswa untuk
kuliah di Oxford University.”, ucap Mira dengan nada sedikit bergetar karena ia
takut jika Adit kecewa padanya.
“Oh, begitu.”, ucap Adit datar dengan
mimik sedikit kecewa.
“Kamu marah ya ? Maafin aku.”
“Sudahlah, buat apa aku marah ? Semua
tidak akan merubahnya kan ? Aku bangga kok, kalau kamu bisa kuliah disana.
Namun, ada sebuah kekecewaan yang mengganjalku.”, ucap Adit dengan tenang.
“Apa itu ?”, tanya Mira antusias.
“Mengapa kamu tidak bicara padaku sejak
lama, Mira ? Sedangkan aku sudah tahu sebelumya dari teman-teman, sebelum kamu
bicara padaku.”, jelas Adit dengan lembut.
“Maafkan aku ?”, jawab Mira yang
tertunduk lesu.
“Ya sudahlah. Semua juga sudah terjadi.
Aku cuma bisa senang mendengarnya. Kapan kamu akan berangkat ?”, tanya Adit
sembari mengusap lembut rambut Mira.
“Minggu depan.”, jawab Mira sembari
melempar senyumnya.
“Kalau begitu, sebelum kamu pergi
tinggalkan aku, lebih baik sekarang kita bermain sepuasnya. Bagaimana ?”
“Baiklah.”
Mereka
berdua akhirnya memutuskan untuk bermain bersama melepas semua kekecewaan yang
ada. Meski masih ada rasa kecewa itu di hati Adit, namun ia tetap simpan semua
itu dan coba melupakannya.
Seminggu
sudah waktu telah berlalu, dan kini Mira tengah bersiap untuk berangkat ke
tempat kuliahnya, yaitu di Oxford University. Satu jam lagi pesawat yang
ditumpangi Mira akan lepas landas. Adit beserta teman lainnya termasuk kepala
sekolah SMA Mira, setia menunggui kepergian Mira. Tangan Adit tak hentinya
menggenggam erat tangan Mira. Adit serasa berat jika harus melepaskan
kekasihnya itu untuk pergi. Namun apa daya, takdir mungkin sudah berkehendak
lain.
“Adit, maafkan aku harus pergi
meninggalkanmu ? Tapi aku janji, aku aka setia buat kamu disana.”, ucap Mira
sebelum masuk ke pesawatnya.
“Iya, Mira. Tidak apa-apa. Aku juga
berjanji akan setia buat kamu disini. Kamu jangan bandel ya disana ? Aku sayang
kamu !”, ucap Adit sembari membelai lembut rambut Mira.
“Aku juga sayang kamu.”, jawab Mira
melemparkan senyum termanisnya. Dan kini saatnya Mira harus berpisah dengan
orang yang disayanginya, seperti Adit dan orang tuanya beserta teman-temannya
yang kemudian bergegas masuk ke dalam pesawat yang di tumpanginya, karena
pesawat akan lepas landas kurang lebih lima belas menit lagi.
Rasa
sakit, sedih, dan kecewa terajut dalam hati Adit. Kecamuk air mata menghiasinya
saat ini. Ada rasa tak rela Adit melepas kepergian Mira. Namun apa daya, semua
ini memanglah harus terjadi. Adit harus mengerti dan menyadari jika pendidikan
Mira disana juga sangatlah penting. Yang pasti, Adit telah berjanji pada Mira
jika ia akan setia menunggu Mira disini, menjaga hatinya. Sampai suatu saat
nanti Mira akan kembali lagi padanya.
~Selesai~
Karya :
Ismiterra Cahya Pradani
@Ca_SbCm
Kamis, 06 Maret 2014
Entah kenapa, aku sangat suka memandangi hujan, bagiku hujan
adalah sebuah kenangan. Karena hujan aku dapat menemukan apa arti cinta dan persahabatan
itu. Aku selalu memperhatikan setiap tetes hujan itu jatuh membasahi bumi ini. Aku
selalu memandang semua itu penuh arti. Hingga aku selalu teringat saat-saat
itu. Saat aku dengannya di bawah setiap tetesan air hujan itu.
Masih terlintas jelas kejadian itu dibenakku, kejadian satu
tahun silam ketika aku masih bersamanya. Rafael, Rafael Landry Tanubrata
lengkapnya, ya, itu nama orang yang pernah singgah dalam kehidupanku.
“Kak
Rafa ! Tungguin aku kenapa sih ? Jangan buru-buru..” omelku pada pemuda yang
bernama Rafa itu.
“Yah,
lemot banget sih kamu, Ra? Cepat dikit kenapa sih ? Udah hampir hujan ini.”
“Iya,
bawel.” jawabku sembari berlari kecil padanya.
Raya Anastasya itu adalah nama
lengkapku. Aku terlahir dari keluarga yang cukup terpandang. Aku masih duduk di
bangku SMA kelas XI, sedangkan Kak Rafa, dia sudah kelas XII. Aku dan Kak Rafa
bersahabat sejak SMP. Dan sejak saat itu pula aku mulai menyimpan rasa padanya.
“Raya
! Cepet lari ! Udah mulai gerimis nih ?”
“Iya,
iya. Capek tau Kak !” ucapku sedikit ngos-ngosan. “Wah mau hujan nih, udah lama
gak hujan-hujanan. Aku kangen hujan. Aku suka hujan. Kerjain kak Rafa aja ah !”
umpatku dalaam hati.
“Aduh
!” teriakku mengeluh pura-pura jatuh.
“Raya
! Kamu kenapa ? Kamu gak apa-apa kan ?” tanya Kak Rafa sedikit khawatir padaku.
“Sakit
kak, kaki aku. Kepleset nih.”
“Haduh,
ada-ada aja ! Mana mau hujan lagi !” omel Kak Rafa sendiri.
Tiba-tiba hujan pun mulai turun dengan
derasnya. Aku dan Kak Rafa pun kehujanan dan kami berdua basah kuyub. Aku
sangat senang hari ini, karena akhirnya aku dapat merasakan lagi sensasi hujan.
“Yeayy,
hujan !” ucapku berdiri dan kegirangan.
“Kamu
kok bisa berdiri ? Kamu bohongin kakak ya ?”
“Hehe,
maaf kak ! Abis udah lama aku gak hujan-hujanan.” Ucapku sambil menunjukkan
jari telunjuk dan jari tengahku membentuk huruf V.
“Dasar
Raya nyebelin. Kan kakak jadi basah semua.”
“Ya
maaf kak ?” jawabku lesu.
“Iya,
aku maafin kok. Terus sekarang kita gimana ? Basah ini.”
“Yaudah
pulang aja ? Nanti kalau sakit, repot dong jadinya.” Ucapku sok dewasa.
“Yaudah
ayo !” jawab Kak Rafa sembari menarik tangan kananku. Dag dig dug, itu yang
saat ini aku rasakan. Entah ada apa, jantungku berdegup sangat kencang hingga
aku tak mampu berkata apa-apa. “Apa aku beneran cinta kak Rafa ?” tanyaku pada
diriku sendiri. Aku masih terpaku atas perlakuan itu, hingga aku tak sadar jika
aku sudah tepat berada di depan gerbang rumahku.
“Udah
sampai, kamu cepetan masuk terus ganti baju ya ? Nanti kamu sakit.” Ucap kak
Rafa tiba-tiba.
“I
iya, Kak !” jawabku agak gagu.
Aku
pun masuk ke dalam rumah dan segera pergi ke kamar untuk ganti baju. Masih
hangaat genggaman tangan itu. Genggaman tangan Kak Rafa yang bisa membuat
jantungku berdetak hebatnya.
*****
Tiga hari sudah kejadian itu
berlalu. Masih teringat jelas kejadian saat tanganku di genggam Kak Rafa di
bawah guyuran air hujan. Dan ternyata, pagi ini mendung menyelimuti angkasa.
Sang mentari pun tak menampakkan sinar indahnya. “Hujan, aku suka hujan.”
ucapku dalam hati.
Pagi ini waktu sudah menunjukkan
pukul 06.00. Aku bergegas turun dari kamarku yang berada di lantai dua dan
pergi menuju ruang makan. Disana kulihat ayah dan bundaku bersama kakak
tersayangku, Kak Rangga.
“Pagi...”
salamku pada semuanya.
“Pagi
juga sayang.” jawab bunda sembari mencium keningku.
“Raya
berangkat dulu ya ? Takut ditunggu lama.” Pamitku pada semua orang yang ada di
ruang makan.
“Pasti
Rafael yang nunggu. Iya kan ?”
“Udah
tau, ngapain tanya !” jawabku sewot pada Kak Rangga.
“Ih
dasar adek nyebelin ! Kamu suka Rafael ya ? Perasaan kamu belain dia terus.” duga
Kak Rangga padaku.
“Tauk
ah.” ucapku sewot karena takut Kak Rangga tau itu.
Beberapa menit kemudian aku pun
telah sampai di depan gerbang sekolah. Ku lihat disana ada Kak Rafa yang
berdiri dengan seorang perempuan dan mereka sangat mesra. Rasa cemburu mulai
hinggap di hatiku. Hal itu serasa menyayat-nyayat hati kecilku yang telah mulai
rapuh ini. Tak terasa air mata mulai menetes bersamaan dengan gerimis yang
mulai turun. Beberapa waktu kemudian, Kak Rafa pun menoleh ke arahku dan tersenyum
padaku. Spontan aku pun menghapus air mataku dan bergegas pergi mendekati Kak
Rafa.
“Hay
kak ?” sapaku padanya.
“Kamu
lama banget sih, Ra ? Sampai jamuran nih kakak nunggu kamu.” omel Kak Rafa
padaku.
“Ya
maaf, tadi di jalan macet.” elakku pada kak Rafa.
“Yaudah,
aku maafin. Oh ya, kenalin ini Eva, teman sekelas aku.” Sembari menunjukkan
perempuan yang ada disampingnya itu.
“Hay,
Kak. Aku Raya.” Ucapku sembari menjulurkan tangan.
“Eva.”
Ucapnya padaku dengan membalas uluran tangan.
“Yaudah,
masuk yuk ? Udah gerimis juga nih.”
“Iya.”
jawabku singkat.
Cantik, ya, itu hal pertama yang aku megerti sejak pertama
melihat Kak Eva. Mereka berdua pun juga terlihat sangat cocok saat berjalan
berdampingan. Dan kulihat pula bagaimana ekspresi Kak Rafael saat bersama Kak
Eva. Ada hal yang sangat berbeda yang nampak padanya. Hingga aku pun mulai
berfikir, jika aku harus membuang jauh-jauh perasaanku pada kak Rafa. Karena
mungkin semua itu adalah hal yang terbaik untukku dan untuknya.
Satu bulan sudah waktu telah berlalu dan kini aku juga telah
mendengar kabar dari temanku, jika Kak Rafa telah berpacaran dengan Kak Eva.
Sakit hati melanda hatiku saat ini.
Sangat perih semua itu dirasakan, meskipun dari awal melihat mereka pertama
bersama, aku ingin melupakan Kak Rafael, tetapi tetap saja susah untuk melakukannya.
Yang ada sekarang ini, hanya kegalauan membayangi hari-hariku.
Malam ini hujan mulai turun lagi dengan derasnya.
Kegelisahan mulai membayangi anganku. Entah apa yang sedang aku fikirkan,
perasaan tak enak datang begitu saja.
“Raya
!” teriak kakakku dari luar kamar.
“Ada
apa kak ?” tanyaku sembari membuka pintu kamar.
“Ada,
Rafael. Kamu temui dia dulu sana !”
“Hem,
iya.” jawabku dengan nada lesu.
Aku
pun turun dari lantai dua menuju ruang tamu. Ku lihat Kak Rafael disana duduk
diam tak seperti biasanya.
“Ada
apa Kak ?” tanyaku padanya.
“Kamu
ada apa sih Ra ? Kenapa akhir-akhir ini kamu jarang ketemu Kakak ?”
“Aku,
aku gak kenapa-kenapa kok.” Ucapku sedikit mengelak.
“Kamu
bohong ! Jujur sama kakak !”
“Udahlah
kak ! Buat apa aku jujur ? Semua itu juga gak akan berguna.”
“Maksud
kamu apa ?”
“Kakak
gak tau maksud aku? Aku itu sayang dan cinta sama kakak !”
“Sayang
? Cinta ?”
“Iya,
aku sayang dan cinta. Tapi, semua udah percuma kan ? Udahlah, mendingan kakak
pulang aja !”
“Tapi,
Ra...”
“Udah,
kakak pulang!” ucapku sembari mendorong Kak Rafa keluar rumah. Hujan deras yang
mengguyur dengan kencangnya seakan mengerti perasaanku malam ini.
“Raya
! Maafin kakak kalau selama ini kakak gak peka sama kamu. Kakak juga sayang kamu
!” teriak kak Rafa dari luar gerbang dengan berhujan-hujanan dan aku pun tak
menolehnya sedikitpun.
Ciittt...
suara rem mobil terdengar jelas di telingaku tepat di depan rumahku. Spontan
aku pun menoleh. Aku sangat kaget karena ternyata Kak Rafa tertabrak mobil itu
dan terkapar lemah tak berdaya.
“Kak
Rafa!!!” teriakku dari depan pintu dan bergegas berlari mendekatinya.
“Kak
Rafa, Kakak bangun kak ? Raya sayang kakak. Raya mau kakak bertahan.” Ucapku
sambil menangis ketakutan.
“Ra
Raya, maafin ka kak ya? Kakak u dah banyak salah sama kamu?” ucap kak Rafael
terbata-bata menahan sakitnya.
“Kakak
gak salah, yang salah Raya. Kakak bertahan ya buat Raya? Raya sayang kakak.”
“Ka
kak ju ga sayang kamu. Dan hujan ini juga jadi saksi, ka kalau kakak juga cin
ta kamu.” ucap Kak Rafa yang semakin terbata dan suara yang tidak jelas.
“Iya
kak. Raya cinta banget sama kakak. Kakak jangan banyak bicara dulu. Raya mau
bawa kakak ke rumah sakit. Kakak bertahan untuk Raya ya ?” pintaku dengan nada
bergetar karena takut kehilangan Kak Rafael.
“Gak
usah, Ra. Ka kak u dah gak kuat. Kakak mau pergi a ja. Ka kak sayang Ra ya.”
ucapnya untuk terakhir kalinya.
“Kak
Rafa.....” teriakku histeris melihat kepergian kak Rafa, orang yang sangat aku
sayangi. Menangis dan menyesal itu yang kurasakan saat ini...
Paginya, pemakaman pun telah
dilaksanakan. Terlihat jelas gundukan tanah merah itu telah menyelimuti jenazah Kak Rafa. Taburan bunga warna-warni
masih segar di atasnya. Batu nisan pun juga telah terpasang rapi dan
bertuliskan sebuah nama, Rafael Landry Tanubrata. Ya, orang yang pertama
mengisi hidupku sudah pergi jauh disana, di tempat yang tenang dan indah untuknya.
“Selamat jalan Kak Rafa, aku sayang kamu” ucapku terahir kalinya sebelum
meninggalkan tempat pemakaman.
*****
“Raya
!” panggil seseorang sembari memegang pundakku.
“Eh,
Kak Rangga.” sadarku dari lamunan itu.
“Sedang
apa kamu ? Kenapa melamun sendiri ?” tanya Kak Rangga lembut.
“Aku
gak melamun kok. Aku cuma kepikiran seseorang”
“Rafael
?” tanyanya padaku.
“Iya.”
jawabku dengan nada lembut.
“Yaudah,
daripada kamu mikirin dia terus, lebih baik kamu ke makamnya. Hari ini kan
tepat setahun dia meninggal.” ucap Kak Rangga mengingatkanku.
“Bener
juga, Kak. Yaudah deh, aku kesana.” responku yang kemudian bersiap-siap untuk
pergi ke makam itu.
Waktu memang cepatlah berlalu dan
kita takkan pernah bisa tahu, kapan Tuhan akan mengambil nyawa kita. Dan kini,
meski Kak Rafael orang yang paling aku sayang telah pergi meninggalkan aku
untuk selamanya, aku takkan pernah melupakan semua kenangan saat bersamanya.
Aku akan selalu mengingatnya sampai Tuhan memberi tahu batas waktuku untuknya.
Sampai aku akan mengerti semua memoriku ini, di balik semua hujan.
Karya :
Ismiterra
Cahya Pradani
@Ca_SbCm
;;
Subscribe to:
Postingan (Atom)

