Rabu, 20 November 2013
Matahari
mulai menampakkan sinarnya, seakan ia mengerti apa yang akan terjadi di hari
yang indah ini. Seakan dia mengerti pula apa yang ada dalam perasaanku saat
ini. Afila Nurzari, itu namaku yang diberikan oleh orangtuaku. Aku terlahir
dari keluarga yang sederhana, yang penuh dengan kehangatan kasih sayang. Dan
aku juga memiliki seorang kakak yang sangat berarti di hidupku, namanya Rangga
Nureza. Dia kakak kesayanganku.
Pagi
ini memang begitu berarti bagiku, karena hari ini adalah hari pertamaku masuk
sekolah dengan status siswa kelas X SMA. Aku bersekolah disebuah SMA yang cukup
terkenal di kota Bandung.
“Fila! Udah siap belum? Udah jam berapa
ini...” seru kak Rangga sambil melihat jam dari luar kamar.
“Iya kak! Sabar sedikit kenapa, barusan
siap-siap juga.” Jawabku keluar dari kamar dengan nada sedikit sewot.
“Iya maaf deh. Tapi tumben nih, adik kak
Rangga kok cantik ya?”
“Iya dong, kan hari ini pertama aku
masuk sekolah kak.”
“Yaudah, ayo berangkat! Udah siang
nih..”
“Okke...”
Aku
pun bergegas pergi ke sekolah diantar kak Rangga. Aku dan kak Rangga satu
sekolah. Dia kelas XII sedangkan aku kelas X. Beberapa menit kemudian kami pun
sampai di sekolah.
“Kak, aku ke kelas dulu ya? Oh ya, kakak
nanti pulang duluan aja ya?”
“Emang kenapa La?”
“Nanti aku mau lihat ekskul mading dulu,
aku pengen ikutan. Boleh ya?”
“Yaudah.”
Kami
pun berpisah, karena kelas kami letaknya berlawanan arah. Aku pun mulai
berjalan menelusuri lorong sekolah, namun tanpa sengaja aku menabrak seseorang.
Karena kelalaianku itu, semua barang yang dibawa orang itu pun jatuh
bertebaran. Aku pun membantunya dan bergegas meminta maaf padanya.
“Maaf, aku gak sengaja. Maaf banget?”
sambil membereskan kertas yang berjatuhan.
“Iya gak apa-apa.” Jawab orang tersebut yang
ternyata seorang laki-laki sambil membereskan kertas-kertas yang bertaburan.
Saat
aku membereskan kertas-kertas tersebut, tanpa sengaja aku membacanya dan
ternyata di kertas itu bertuliskan data untuk pendaftaran menjadi anggota
mading yang baru.
“Maaf kak, apa ini data untuk anggota
mading yang baru?” tanyaku pada pemuda itu tanpa menoleh padanya karena masih
fokus pada kertas itu.
“Iya, emang kenapa? Kamu mau ikut?”
tanya pemuda itu padaku.
“Iya.” Jawabku sambil menoleh ke arah
pemuda itu. Dan deg, jantungku berdegup begitu kencangnya saat aku menatap
orang itu. Aku terpesona oleh ketampanannya.
“Dek!” panggilnya menyadarkan lamunanku.
“I iya kak.. Ada apa?” jawabku tersadar.
“Kalo kamu mau ikut, ini kakak kasih
kamu kertasnya sekarang.” Sambil memberikan selembar kertas untuk mengisikan
data diri.
“Makasih.”
“Sama-sama. Oh ya, Aku Dicky Prasetya
kelas XII IPA 6.” sambil menjulurkan tangannya padaku.
“Aku Afila Nurzari kelas X3.” Jawabku
padanya dan membalas uluran tangannya.
“Yaudah aku duluan ya? Sampai bertemu
nanti?”
“Iya Kak.”
Kak
Dicky pun meninggalkanku untuk pergi ke kelasnya dan aku pun melanjutkan
perjalananku ke kelas. Beberapa saat kemudian aku pun memasuki kelasku. X3,
tulisan itu terpampang di atas pintu kelas.
Di
kelas itu pun aku mulai memiliki teman dan teman pertamaku disana adalah Nisa,
lengkapnya Nisa Aini. Hobinya sangatlah unik. Ia suka mengoleksi barang-braang
yang langka dan hari minggu besok dia mengajakku ke rumahnya untuk melihat
koleksinya. Aku pun sangat senang dengan ajakkannya itu. Hingga tak terasa
waktu kini sudah berjalan begitu cepatnya hingga akhirnya jam pulang pun telah
tiba.
‘Fila, kamu setelah ini mau kemana?”
tanya Nisa padaku.
“Aku mau ikutan pendaftaran ekstra
mading dulu, Sa.”
“Mading? Wah berarti ketemu sama kak Dicky
yang ganteng itu dong?”
“Kok kamu tau kak Dicky?”
“Afila, siapa sih yang gak tau dia. Dia
itu cowok yang paling tampan di sekolah ini. Udah imut, tampan, baik, murah
senyum lagi.”
“Iya sih, tadi dia juga baik banget sama
aku.”
“Tadi kamu bertemu dengannya? Wah enak
dong..”
“Biasa aja kali, Sa! Ah udah deh, nanti
aku telat kumpulnya.”
“Yaudah sana! Sampai ketemu besok?”
“Okke...”
Aku
dan Nisa pun berpisah dan menuju tempat tujuan masing-masing. Aku berjalan
menelusuri lorong sekolah menuju tempat pendaftaran anggota mading. Aku pun
melihat kakakku, kak Rangga berdiri di depan ruang mading sedang mengobrol
dengan kak Dicky.
“Hay, kak Rangga?” sapaku pada kakakku.
“Eh adikku tersayang.”
“Adik, Ngga?” tanya kak Dicky
kebingungan pada kak Rangga.
“Iya adik, Fila ini adikku yang tadi aku
ceritain mau daftar ekstra mading.”
“Oh ini, tadi aku udah ketemu sama dia.”
“Kok bisa?” tanya Rangga bingung.
“Tadi aku gak sengaja nabrak kak Dicky
di depan perpus, kak.” Jawabku pada kebingungan kak Rangga.
“Yaudah kamu masuk aja! Udah mau dimulai
itu!” pinta kak Dicky padaku.
“Iya kak..” jawabku pada kak Dicky dan
bergegas masuk ke ruang mading.
Acara
pendaftaran anggota baru pun telah dimulai. Di dalamnya kami semua yang
mendaftar mengikuti test dan juga diberi perbekalan. Akhirnya waktu pun telah
cepat berlalu dan acara itu telah selesai. Aku bergegas untuk pulang karena
waktu telah menunjukkan pukul 4 sore. Saat berada di depan gerbang sekolah
menunggu jemputan, kak Dicky tiba-tiba sudah berada di sampingku.
“Sendirian La?” sapa kak Dicky padaku
tiba-tiba.
“Eh kakak, ngagetin aja? Iya ini aku
sendiri, kak Rangga gak dateng-dateng si>”
“Yaudah sabar aja? Kakak temani sampai
Rangga datang ya?”
“Gak ngrepotin kak?”
“Gak apa-apa kok.”
Beberapa menit kemudian
kak Rangga pun datang ,enjemputku menggunakan mobil sport putihnya. “aku dulua
ya kak? Kak Rangga sudah datang, makasih udah mau nemenin aku?”
“Iya sama-sama. Hati-hati ya La?”
“Iya.” Jawabku sambil tersenyum pada kak
Dicky.
“Duluan ya Dick?” pamit kak Rangga pada
Kak Dicky. Dan kak Dicky pun hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya.
*****
Tidak
terasa waktu kini sangatlah cepat berlalu. Empat bulan sudah aku menjalani masa
SMA. Dan aku juga sudah mulai dekat dengan kak Dicky, kakak kelas yang pertama
aku kenal sekaligus pengampu dalam ekstra mading. Entah apa yang terjadi,
akhir-akhir ini setiap aku dekat dengan kak Dicky , aku merasakan
getaran-getaran aneh di dadaku. “Apakah benar aku suka dengan kak Dicky?”
pertanyaan itu yang selalu muncul di benakku. Aku benar-benar tidak mengerti
dengan semua itu.
“Dek??” panggil kak Rangga yang
menyadarkan lamunanku saat aku duduk di balkon kamarku.
‘Iya kak?”
“Kamu kenapa melamun? Kakak tahu, pasti
mikirin Dicky ya?” terka kak Rangga padaku.
“Ih apa si kak? Sok tau deh.” Jawabku
menyangkal.
“Tapi benerkan?”
“Gak kok! Ah udah deh, bahas yang lain
aja?”
“Iya deh. Oh ya, bagaimana sama artikel
kamu tentang kanker itu? Jadi diterbitkan gak?”
“Jadi dong, besok udah muncul kok.”
“Yaudah, udah malem ini? Tidur sana!
Biar besok gak kesiangan.”
“Oke kakak.” Jawabku tersenyum dan
bergegas beralih ke tempat tidurku untuk mulai bermimpi.
Pagi
hari kini telah tiba namun nampaknya matahari enggan untuk muncul hari ini.
Suasana mendung mulai menyelimuti pagi yang dingin ini. Aku bergegas bangundari
tidurku dan segera bersiap untuk menjalankan aktivitasku seperti biasanya. Ku
buka jendela dekan balkon kamarku. Terlihat rintik hujan mulai turun membasahi
bumi.
“Yah,kok gerimis ya? Mana perasaanku
aneh gini, ditambah kepikiran kak Dicky pula. Ya Allah semoga tidak terjadi
apa-apa.” Lirihku sambil melihat keluar jendela.
Beberapa saat kemudian aku bergegas
menemui kak Rangga untuk sarapan dan berangkat sekolah bersama.
“Pagi kakakku sayang?” sapaku pada kak
Rangga.
“Pagi juga, adekku. Sarapan dulu cepet?
Nanti keburu siang?”
“Iya kak.”
Akupun
telah selesai sarapan dan bergegas berangkat ke sekolah meski gerimis membasahi
bumi. Kak Rangga mulai melajukan mobilnya dengan santai dan tidak tergesa.
Namun dalam perjalanan, aku melihat seseorang yang sepertinya aku kenal di
sebuah halte bis.“Itu bukannya kak Dicky ya? Tapi sama siapa?” tanyaku dalam
hati. Aku pun berhenti memperhatikan mereka, karena kak Rangga mulai cepat
melajukan mobilnya. Hingga sesampainya di sekolah, aku berlari menuju ke kelas
untuk menanyakan sesuatu pada Nisa yang kini menjadi sahabatku.
“Nisa!” panggilku pada sahabatku itu.
“Adaapa si La? Main teriak-teriak aja?”
“Aku mau tanya sama kau!”
“Tanya apa?”
“Tadi waktu di jalan, aku melihat kak
Dicky sama seorang perempuan. Kamu tahu?”
“Emm, akhirnya kamu lihat juga La?”
“Maksud kamu?” tanyaku sedikit
kebingungan.
“Perempuan yang bersama kak Dicky itu
namanya kak Angel. Dia pacar kak Dicky.”
“Pa pacar Sa?” tanyaku kaget dan sedikit
tidak menyangka.
“Iya, mereka sudah pacaran 2 minggu
ini.”
Setelah
mendengar pernyataan Nisa, aku merasa sedikit syok. Hatiku serasa hancur
berkeping-keping. Karena apa? Karena aku suka dan jatuh cinta pada kak Dicky.
Aku sungguh lemas terkulai, aku tak tahu harus berbuat apa lagi. Dan tak terasa
pula, air mataku tiba-tiba mengalir di pipiku.
“Kamu yang sabar ya La? Aku Yakin jika
kalian berjodoh pasti akan bertemu.”
“Iya Sa. Aku gak apa-apa kok.” Jawabku
masih tertunduk lemas setelah mendengar semuanya.
*****
Sebulan
sudah kejadian itu terlewati. Aku masih benar-benar sakit menerima kenyataan
pahit itu. Dan sejak kejadian itu pula aku sedikit menjauh dari keberadaan kak
Dicky. Mungkin ia bingung dengan sikapku yang begini, namun beginilah adanya
aku sekarang.
Sore
itu di sebuah taman di belakang sekolah, aku sedang duduk sendiri menatap layar
laptopku sambil menuliskan isi hatiku di dalamnya. Namun aku merasa ada
seseorang berdiri di belakangku. Aku pun menengoknya dan sedikit tak menyangka
dengan apa yag ada di hadapanku. Kak Dicky, ya orang itu kak Dicky.
“Kakak? Sejak kapan di situ?”
“Sejak tadi, ya sekitar 10 menitan.”
“Oh, kakak mau duduk di sini? Kalau
begitu aku pergi saja.” Jawabku sambil pergi dan melangkahkan kakiku. Namun ada
sesuatu yang menahanku. Deg, jantungku srasa berhenti. Kak Dicky menahan
tanganku denan tngannya agar tidak jadi pergi.
“Kak, tolong lepas? Nanti pacar kakak
melihat.”
“Gak La, Angel udah pulang. Kakak mau
ngobrol sama kamu, boleh?” pinta kak Dicky.
“Iya kak.” Jawabku pada permintaannya
yang kemudian kembali duduk di tempat tadi.
“Kamu kenapa si? Kok akhir-akhir ini
kamu menjauh? Kamu marah sama kakak?”
“Haha, buat apa aku marah kak?” jawabku
tertawa, namun menyembunyikan semua sakit hatiku.
“Tapi kenapa kamu beda La? Kakak tu
sayang sama kamu. Jangan jauhi kakak begini !”
Deg, jantungku terasa
berdetak dengan kencangnya. Seakan tak percaya dengan apa yang diucapkan kak
Dicky tadi. Sayang, namun sebatas apakah sayang itu? Hati aku hanya dapat
bertanya-tanya.
“Maksud kakak?”
“Aku sayang kamu, Fila! Aku udah anggap
kamu seperti adik aku sendiri. Kalau kamu menghindar seperti ini, ada sesuatu
yang menghilang dari hidupku, La! Tolong jangan jauhi kakak lagi?” pinta kak
Dicky panjang lebar.
“Jadi sayang kamu sebatas kakak adik,
kak?” tanyaku dalam hati.
“Afila! Jawab kakak?” ucapa kak Dicky
menyadarkan lamunanku.
“Emm iya kak, aku gak menjauh kok.
Tenang aja?”
“Beneran? Janji?” menjulurkan jari
kelingkingnya di hadapanku.
“Iya, janji.” melingkarkan jari
kelingkingku di kelingkingnya.
“Oke, kalau begitu kakak pamit dulu ya?
Ada tugas yang menunggu. Sampai bertemu lagi adikku sayang?”
“Iya kak.” Jawabku dengan nada lirih.
Dan
ternyata benar, aku telah salah mengartikan semua perhatian yang telah di
berikan oleh kak Dicky padaku. Ku kira dia menyukaiku seperti aku menyukainya. Namun
ternyata, dia hanya menganggapku sebatas adik. Namun aku selalu ingat dengan
perkataan Nisa, bahwa jika dia memang jodohku, suatu saat nanti pasti kita akan
bertemu. Sakit yang kini tersisa di hatiku, namun ada rasa sedikit lega saat dia
menganggapku seperti adiknya. Namun tetap saja kini aku mencintai kak Dicky
dalam diam.
~Selesai~
buah karya :
Ismiterra Cahya Pradani
@Ca_SbCm
;;
Subscribe to:
Postingan (Atom)

