Kamis, 24 Oktober 2013

SELALU TENTANG KAMU



*Cerita ini hanya fiktif belaka.

            5 tahun, ya lima tahun sudah ku jalani hariku dibalik kehidupannya. Dicky Prasetya, dia sahabatku sekaligus cinta pertamaku, orang yang pertama mengisi hatiku. Namun, akankah dia juga mengerti tentang perasaanku ?? lima tahun ku jaga hatiku hanya untuk dia, aku hanya bisa menanti, menanti dan terus menanti sejak pertama aku di bangku SMA, hingga sekarang tlah lulus dari sekolah itu.
“Elda??? Woy... ngapain loe nglamun sendiri !!!” teriak seorang pria mengagetkanku.
“eh..eh, loe Dick...” jawabku dengan sedikit gagu.
“Loe kenape?” tanya dicky sambil duduk di sampingku.
“gak kenapa-kenapa kok.., eh ntar sore ke cafe dara yuk ? gue bosen di rumah nih..”
“okke Da, emmm ntar gue jemput loe ya ?”
“emang loe berani ngadepin kakak gue?’
“demi loe apa sih yang gak gue lakuin.” Sambil mencolek daguku.
“ihh, apaan sih loe colek-colek..”
“biarin... wleekk...” sambil berlari meninggalkanku.
“Dicky..!!!!” mengejar dicky yang sudah berlari di depan.
            Elda, ya itu namaku, Elda Tanubrata. Aku terlahir dari keluarga Tanubrata. Aku memiliki seorang kakak yang sangat tampan bagiku. Namanya Rafael, Rafael Tanubrata tepatnya. Dia kakak yang sangat bertanggungjawab dan selalu perhatian padaku melebihi kedua orang tuaku.
           
Sore itu, tepat pukul 4 sore. Aku sudah selesai berdandan dan siap untuk  jalan bersama Dicky.
“eghemmm, wah adek gue kok udah rapi gini ya?” tanya seseorang yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarku.
“eh kak Rafael, ngagetin aja sih?! Ketok pintu dulu donk kalo mau masuk!!” jawabku sedikit sewot.
“yeilahh, gitu aja marah. Iya-iya kakak minta maaf deh..”
“hemm...” jawabku hanya berdehem..
“Emang loe mau kemane dek?”
“Mau jalan kak, bosen gue di rumah..”
“pasti sama Dicky...”
“Iyelah siapa lagi..”
            Tinn Tinn.. suara klakson motorpun berbunyi dari luar.
“Eh itu Dicky udah dateng kak...” ucapku sambil melangkah keluar kamar. Namun, kak Rafael menahanku.
“entar dulu, loe jalannya di belakang kakak. Gue mau introgasi dia dulu.”
“yaellah, kaya di kepolisian aje, pake introgasi segala.”
“udah deh gak usah bawel.”
            Aku pun turun ke bawah bersama kak Rafael untuk menemui Dicky. Kak Rafael pun membukakan pintu rumah dan segera mengintrogasi Dicky.
“eh loe ngapain kesini?’ tanya Rafael tiba-tiba.
“Yaelah loe Raf, ngagetin aja.”
“Loe mau bawa adek gue kemana?’
‘Jalan-jalan aja Raf, gak gue apa-apain kok. Suer deh “ sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya.
“udah-udah deh kak, keburu sore. Kalian itu kan satu genk motor masih aja saling curiga.’
“Tauk tu kakak loe..”
“Ape loe bilang Dick!!!” sambil melotot ke arah dicky..
“eh eh piss pisss... jangan melotot gitu, ngeri tau... hehee”
“udah ah, yok dick berangkat.” Sambil menggandeng tangann dicky meninggalkan kak Rafael.
“Bye kakak, muaacchhh’
“bye.. hati-hati...’
“siap bosss...” jawab dicky sambil mengendarai motor pergi meninggalkan rumah ku.

            Setelah perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 15 menit, akhirnya aku dan dicky pun sampai di sebuah cafe tempat biasa kami nongkrong. Disana ternyata banyak sekali teman-teman Dicky satu genk yang sedang berkumpul.
“Hey Dick..!?” panggil seseorang dan mendekati meja kami.
“hey bro,, ngapain loe disini?” tanya dicky pada orang itu.
“Nongkrong aja ni sama adek gue, terus satu lagi ama temen gue, tapi sekarang dia lagi di toilet”
“o gitu,.. oh ya Da, kenalin ini namanya Reza dan yang satunya Ilham.”
‘hey, gue Elda...” sambil bersalaman
“hey salam kenal, gue Reza dan ini adek gue ilham..”
“hay....” ucap ilham
“Em dick, gue ke toilet dulu ya?’
“oke...”
            Aku pun pergi meninggalkan dicky dan bergegas pergi ke toilet. Namun kesialan ternyata datang kepadaku. Aku terpeleset saat akan berjalan ke arah toilet namun untungnya ada seseorang yang tiba-tiba menolongku dan menahanku agar tidak jatuh. Spontan mataku dengan matanya pun saling bertatap. Ku rasakan ada sesuatu lain dari tatapan orang itu.
‘em... makasih ya ?” ucapku pada seseorang itu sambil bangun dari posisi tadi.
“iya sama-sama. Gue Bisma.” Sambil menjulurkan tangannya.
“Gue Elda..” membalas uluran tangan itu.
“Yaudah gue balik depan dulu ya ? ati-ati loe?”
“iya, maksih...”

S
K
I
P

            Jam kini sudah menunjukkan pukul 6.30 malam aku meminta pada Dicky untuk segera bergegas pulang dan Dicky pun bergegas megantarku. Setelah 15 menit kemudian aku pun telah sampai di rumah.
“Loe gak mampir dulu dick?”
“gak deh, besok pagi aja gue ke rumah loe? Besok kn hari minggu.”
“Oke deh, yaudah gue masuk dulu ya? Emm.. *Cupss...” ciumanku mendarat di pipi kanan Dicky.
”byee Dick, gue tunggu loe besok.” Sambil senyum-senyum meninggalkan Dicky dan masuk ke dalam rumah.
“Byee juga Elda..” jawab dicky karena tidak percaya dengan apa yang tlah ku lakukan tadi.
Akhirnya Dicky pun pergi meninggalkan rumahku dan aku pun kini tengah masuk ke dalam rumah. Namun sepertinya saat ini ada tamu datang kerumah.
“eh Elda udah pulang. Sini nak ?” panggil mamaku yang sedang mengobrol dengan tamunya itu.
“Ini yang namanya Elda? Cantik ya...” ucap seseorang itu setelah melihatku.
“Cocok ya sepertinya dengan anak kita mi?” jawab laki-laki yang ada di samping wanita itu.
“Iya.... Ima...Ima... kemana kamu? ”  panggil wanita itu pada seseorang
“Iya mah,” jawab seseorang sambil melangkah masuk dari luar ke dalam rumah.
Aku pun kaget setelah melihat siapakah orang yang dipanggil tante itu. Dan ternyata dia Bisma.. ya Bisma. Cowok yang tadi menolongku di cafe.
“Loe..!!!” tanyaku pada bisma.
“hay Elda? Kita ketemu lagi.’
“Jadi kalian sudah kenal?” tanya mamaku.
“Iya mah, tadi Elda ketemu dia di cafe.”
“Berarti kalian jodoh, jadi apalagi yang harus kita fikirkan jeng? Kita langsung jodohin aja? Toh mereka juga sudah saling kenal?.”
“Iya Jeng saya setuju...”
“Jodohin? maksud mamah?”
“Iya Elda kamu bakalan di jodohin sama Bisma, dan karena mama sudah ingin melihat kamu menikah jadi pernikahan kalian akan segera di langsungkan. Iya gak jeng..”
“betul sekali jeng..”
Aku pun lemas mendengar keputusan dari mamahku itu. Kali ini aku benar-benar sedih, benar-benar kecewa. Banyak sekali halangan untuk aku mempertahankan hatiku untuk Dicky.
Aku pu bergegas pergi dari tempat itu dan masuk kekamar. Aku berjalan mendekati balkon kamar, kemudian  melihat ke atas ke arah bintang-bintang yang seakan-akan mengerti tentang keadaanku. Butian-butiran air mata matapunmulai menetis di pipiku.
“Kenapa sih ada aja kesulitan buat gue mempertahanin hati ini untuk Dicky? Kenapa?” tanyaku pada bintang itu.
“Gue capek nahan semua ini. Gue ingin Dicky, gak mau yang lain.”
“Loe yang sabar ya dek?” ucap seseorang yang membuyarkan tangisanku. Orang itu adalah kak Rafael.
“loe kak...” jawabku lesu.
“Loe cinta sama Dicky?”
“Maksud kakak?”
“jujur aja deh dek?”
“Iya kak, gue cinta dicky dari gue SMA.”
“Bisma orangnya emang baik dek, tapi kalo loe gak suka sama dia sama juga bo’ong. Loe harus perjuangin cinta loe ke Dicky dek. Dia juga baik dan bertanggungjawab kok orangnya. Kakak dukung loe dek...”
“Makasih kak? Elda sayang sama kak Rafael..” sambil memeluk kak Rafael dan itu adalah hal yang paling nyaman untukku saat ini.
“kakak sayang sama Elda.”
“elda juga....”
            Malam kini sudah semakin larut dan saatnya kini aku harus tidur. Yang ku harapkan saat ini hanya satu, jangan biarkan perjodohan itu berlanjut karena aku hanya ingin hidup bersama Dicky.

S
K
I
P

            Pagi kini tiba dan jampun sudah menunjukkan pukul 6. Aku bergegas bangun dari tidurku dan segera mandi. Setelah selesai mandi dan berdandan, aku turun ke bawah untuk memulai sarapan pagi. Akupun menemui papah dan kakakku yang sudah duduk menunggu di meja makan.
“Pagi pah, kak...” salamku pada mereka.
“Pagi juga sayang...”
“Pagi juga adekku yang paling cantik....” puji kak Rafael.
“Ini sarapannya sayang..” ucap mamahku dan kemudian duduk di sampingku. “Oh ya da, mama dan papahku sudah putusin kalo bulan depan kamu akan melangsungkan pernikahanmu dengan Bisma..”
“Apa mah?!!!!”ucapku kaget sambil melempar sendok yang ku pegang.
“Iya sayang, kamu siap kan?”
“Aku.... aku kenyang mah...” ucapku sambil pergi meninggalkan mereka bertiga. Kak Rfael pun hanya menatap kepergianku, dia mengerti tentag apa yang aku rasakan saat ini.
“Ahhh... gue sebell sam diri gue!!! Kenapa semua itu harus terjadi...” teriakku di taman depan rumah. “Ini juga, kemana Dicky. Katanya mau dateng pagi ini...” ucapku kesal.
Namun tiba-tiba ada seseorang yang menutup kedua mataku.
“Dicky?!!” ucapku pada orang yang menutup mataku itu.
“hehe... kok loe tau sih?”
“Iyalahh,, gue hafal sama bau badan loe...”
“ish,, sial...” jawab dicky yang kemudian dia menatapku karena merasakan ada yang berbeda padaku.
“Loe kenapa Da?” tanya dicky sambil menatapku.
“Guee... gue....” jawabku bingung dan akhirnya air mataku pun tlah menetes ke pipiku.
“Hey,, kok loe nangis gitu Da?” tanya dicky sambil mengusap air mataku.
“Gue di jodohin dick, dan gue bakalan nikah bulan depan.”
“Apa?!!! Kok bisa gitu sih?”
“Gue juga gak tau dick...”
            Dicky pun merasakan hal yang aneh pada dirinya, ya setelah dia mendengar pernyataanku tadi dia merasakan sakit yang sangat sangat mendalam. Dia merasakan patah hati. Air mataku pun hanya dapat menetes, dan semakin lama semakn deras mengalir.
“Elda?”
“Iya dick?”
“Gue boleh jujur gak sama loe?”
“Iya...”
“Gue su suka sama loe dan gue cinta sama loe Da...” ucap Dicky dengan sedikitt grogi.
Aku pun kaget dan menatap Dicky tak percaya. “Loe serius Dick?”
“Iya Elda, gue serius.”
“Gue juga cinta loe Dick, gue cinta loe dari 5 tahun yang lalu...” jawabku pada Dicky dan kemudian akupun memeluknya dengan sangat erat. Dicky punkemudian mencium keningku dengan lembutnya. Ya itu hal pertama yang Dicky lakukan padaku walaupun kami sudah dekat kurang lebih 5 tahun. Dan ternyata pula sedari tadi ada 2 mata yang menatapku dan dicky di tempat ini. Ya, siapa lagi kalau bukan kak Rafael, orang yang telah perhatian padaku selama ini.
“Loe harus perjuangin cinta loe dek...” ucap rafael di dalam hatinya. Dia sangat-sangat merasakan suasana yang tlah terjadi padaku saat ini.

S
K
I
P

            1 bulan telah cepat berlalu, ya malam ini adalah malam pernikahanku dengan Bisma. Sungguh cepat kurasakan waktu berjalan. Dan selama aku berdandan, aku hanya dapat meneteskan air mataku saja.
“Tuhan, apakah sampai segini saja aku mempertahankan hatiku untuk Dicky? Tuhan berilah aku keajaiban...” ucapku lirih dalam hati.
“adek....?!” panggil kak Rafael padaku.
“Iya kak? Ada apa?”
“Apa loe udah yakin mau lakuin ini?”
“Gue juga gak tau kak, gue udah pasrah aja...”
“Yaudah, kita turun yuk? Udah mau di mulai tu...”
“He’em....” jawabku dengan singkat dan sediit lesu.
Aku pun mulai berjalan dan akan turun ke bawah untuk memulai pernikahan ini. Namun langkahku kini terhenti dan aku tak mampu berjalan saat aku melihat Dicky di balik piano kesayanganku. Sungguh aku tak berdaya melihat orang yang sangat aku sayang dan aku cinta itu, aku tak sanggup menatapnya.
“Selamat malam para hadirin, saya disini akan mempersembahkan sebuah lagu yang saya tujukan untuk orang yang sangat saya sayangi. Sebuah lagu yang berjudul “Selalu Tentang Kamu.”....” ucap Dicky yang kemudian memainkan piano itu.
Akhirnya ku temukan yang selama ini ku cari cari
Kamulah yang ku mau, menemani hariku selalu selalu
Hilang semua sedih hati, denganmu ku rasakan cinta cinta

Kamulah bunga dari tidurku
Mimpi-mimpi indahku, selalu tentang kamu (always be you)
Kamulah bintang-bintang hatiku
Akan ku jaga selalu, selalu tentang kamu
Apapun yang akan terjadi ku kan selalu jadi milikmu
So this is my heart, this is my soul, I will be here forever
Kamulah bunga dari tidurku (dari tidurku)
Mimpi-mimpi indahku (mimpi indah, mimpi indah)
Selalu tentang kamu (always be you)
Kamulah (kamulah kamulah)
Bintang-bintang hatiku (bintang bintang di hatiku)
Akan ku jaga selalu, selalu tentang kamu (selalu bintang kamu)
All that i have for you, all that i need is you, is you

            Butiran air mata kembali membasahi pipiku tatkala Dicky sudah terhenti dari dentingan piano itu. Aku hanya bisa menatap Dicky dalam-dalam. Aku sungguh tak sanggup melanjutkan semua ini.
“ayo dek, kita harus turun...” ajak kak Rafael padaku.
“Gue gak kuat kak ngadepin semua ini....” ucapku yang semakin berlinang air mata.
Namun tiba-tiba Bisma berdiri dan mulai berjalan mendekatiku.  Tampak dari wajahnya bahwa dia sudah sedikit tak sabar dengan sikapku.
“Gue gak akan berhenti..” ucap Bisma padaku yang kemudian menarikku ke bawah menuruni tangga. Aku hanya bisa diam dan pasrah dengan semua itu. Namun kejadian aneh terjadi, Bisma tidak mengajakku ke arah penghulu. Tapi.... ternyata dia mengajakku ke arah Dicky. Dia melepaskan genggaman tangannya dan kemudian mendorongku ke arah Dicky. Aku bingung dengan apa yang dia lakukan.
“Bisma??!!” tanyaku padanya dengan agak bingung...
“Gue tau kalo loe itu terpaksa nikah sama gue Da, dan gue juga tau kalo cinta loe itu buat Dicky.”
“Bisma?”
“Gue ikhlas loe sama Dicky, Da! karena gue tau Dicky itu orangnya baik dan bertanggung jawab...”
“Loe serius Bis?”
“Iya Elda, gue serius. Udah cepetan loe ke Dicky?” sebelum gue berubah pikiran!”
“Iya Bis iya, makasih bisma? Makasih?” ucapku pada bisma yang sudah berkorban.
“Dicky....” teriakku dan sambil berlari ke rah Dicky.
“Elda, gue cinta loe !!!” teriak dicky sambil memelukku dengan sangat erat. Orang-orang yang ada di sekitarku pun hanya tersenyum melihat semua kejadian itu. Mereka pun juga ikut senang dengan apa yang terjadi saat ini.
“Akhirnya Cinta loe terwujud dek...” ucap Kak Rafael dalam hati dan tersenyum melihatnya.
“kamu memang anak baik Bisma? Tante yakin kamu akan dapat perempuan yang baik.” Ucap mamaku pada Bisma.
“Makasih ya Bis? Loe udah buat bahagia adek gue?”
‘Iya Raf, gue juga senang melihatnya..”
            Dan akhirnya pernikahanku dengan Bisma pun batal, namun tidak dengan Dicky. Kami berdua pun memutuskan untuk menikah saat itu juga. Dan kini aku sudah sah menjadi istri Dicky Prasetya, orang pertama yang aku cinta dan akan jadi orang terakhir pula yang aku cintai. I LOVE YOU DICKY..... “Selalu Tentang Kamu” di hidupku..................





By : Ismiterra Cahya Pradani
@Ca_SbCm               

0 Comments:

Post a Comment



By :
Free Blog Templates