Sabtu, 15 Juni 2013

Cerpen SM*SH - Indah Pada Waktunya


Cast : Dicky M Prasetya as Dicky
            Rafael Landry Tanubrata as Rafael
            Chilya Anastasya as Chilya


“Tuhan, maafkan diri ini. Yang tak pernah bisa menjauh dari angan tentangnya. Namun, apalah daya ini bila ternyata sesungguhnya aku terlalu cinta dia....”
            Ku tulis sajak ini dalam buku diari kecilku. Aku meluapkan semua rasa ku padanya dalam buku ini. Andai engkau tahu, cinta ku padamu takkan pernah hilang, meski ku tau kau tak mungkin akan mencintaiku...
Namun jika mungkin kita akan bersama, akulah orang yang paling bahagia di dunia ini.
“chilya ! ngapain kamu disini?”tanya seseorang padaku
“Eh Coh Rafael.. aku gak ngapa-ngapain kok Coh. Cocoh sendiri ??”
“Cocoh nyariin kamu dari tadi. Eee.. ternyata ada disini! Dibelakang pohon lagi.”
“Maaf Coh J,, abis di dalem panas. Jadi aku disini... J
“Yaudah masuk yuk? Udah malem ini. Ntar kamu sakid lagi?”
“Iya  Coh..” sambil berjalan masukke dalam.
            Namaku Chilya Anastasya, aku anak ke-2 dari 2 bersaudara, dan sekarang aku masih duduk di bangku SMA kelas 2 di SMA N 27 Bandung. Orang tadi adalah kakakku, namanya Rafael Tanubrata. Dia kakak yang paling aku sayangi. Sekarang, dia masih kuliah di salah satu Universitas terkenal di daerah Bandung. Namanya Universitas Toro.

            Saat pagi hari.....

“Chilya bangun !! udah pagi ini. Nanti kamu telat ke sekolahnya..” seru kak rafael dri luar
“iya kakak... bentar. Ini udah bangun..? mau siap siap dulu.”
“Cepetan donk..! udah jam berapa ini?”
Akupun keluar kamar dan bergegas menemui kak Rafael, “Iya kak, ni udah selesai. Ayo berangkat..?”
“Bentar, kakak periksa dulu.” Sambil melihat kelengkapanku
“Udah kan ?” tanyaku sedikit kesal
“Iya ! Yaudah yuk berangkat.”
            Kakakku itu emang super duper perhatiannya. Tapi, dari sikapnya itu yang membuat aku agak risih. Aku selalu dianggap seperti anak kecil. Padahal, 3 bulan lagi umurku 17 tahun.
S
K
I
P
            Di sekolah...

“Kak aku masuk dulu ya...?”
“Iya... oh ya, ntar kakak gak bisa jemput. Soalnya ada acara sama anak-anak SMASH.”
“Iya deh kak, gak papa kok...”
“Oke kalo gitu, bye adek...”
J... “
            Aku pun berjalan menelusuri koridor sekolah untuk menuju kelasku. Tanpa terasa ada seseorang yang menabrakku dari depan. Spontan aku terjatuh dan merasa sedikit kesakitan. Setelah aku melihat siapa yang menabrak, aku pun kaget setengah mati. Ternyata dia.....
“Kak Dicky...” ucapku kaget..
“Eh eh maaf ya ? Aku gak sengaja nabrak kamu?”
“Iya gak apa-apa kok kak?”
“oh ya, aku buru-buru. E tapi... nama kamu siapa ?” sambil mengulurkan tangan
“Aku... aku Chilya..” membalas uluran tangan..
“Ou.. Chilya. Yaudah, aku pergi dulu. Sampai ketemu lagi ?”
“Iya kak J
            Aku pun merasa sangat deg-degan. Oh tuhan, aku bisa berjabat tangan dengan orang  yang slama ini aku sukai, aku cintai, Kak Dicky Prasetya. Tuhan dekatkanlah dia padaku slalu..
S
K
I
P
            Di rumah....
“Tuhan,,,ku tahu permintaanku padamu terlalu besar. Aku inginkn dia slalu Tuhan, inginkan dia. Walau ku tahu, waktu ku di dunia ini takkan lama. Namun satu yang ku inginkan, slalu dekatkan dia padaku Tuhan. Dekatkan dia “
            Ku tulis lagi sebuah kalimat dalam buku diari kecilku. Tak terasa butiran air mata jatuh ke pipi. Ya, ku sadar jika ini tak mungkin terjadi. Cintaku padanya mungkin takkan terbalaskan. Cintaku padanya mugngkin hanya cinta semu.
“Dek, kamu kenapa ?”
“gak ada apa-apa kok kak.”
“tapi kok kamu nangis?”
“Aku gak nangis, tadi Cuma kelilipan debu aja.”
“Ouh...”
            Gak tau kenapa, aku merasakan pusing yang sangat berat di kepalaku. Hidungku pun keluar darah yang cukup deras. Setelah itu akupun tak sadarkan diri dan tak tau apa yang terjadi lagi.

            Di rumah sakit....

“Chilya, sadar donk? Kamu kok bisa gini lagi sih ? jawab kakak donk..” tanya kak rafael yag sangat khawatir.
Akupun akhirnya tersadar, “Kakak, jangan nangis donk? Cengeng deh...”
“Chil,  kamu udah sadar? Mana yang sakit?”
“Udah gak apa-apa kak. Tenang aja, jangan khawatir banget gitu donk? Chilya khan udah gedhe.”
“Gimana gak khawatir, kakak takut banget kehilangan kamu.”
“Aku gak akan ninggalin kakak kok.. beneran.”
“Iya dek, kakak sayang kamu?”
“Aku juga sayang kakak.”
           Seminggu sudah aku berada di rumah sakid. Aku merasa sangat bosan di dalam kamar terus. Akhirnya aku pun meminta izin pada dokter untuk keluar kamar sebentar mencari angin. Dan dokter pun mengizinkannya. Aku hanya di beri waktu 2 jam untuk keluar.
Saat aku berjalan-jalan di taman rumah sakid, aku melihat seseorang yang sangat aku kenali. Ya, dia kak Dicky. Kakak kelas yang sangat aku suka, aku pun mendekatinya.
“hay kak Dicky ? boleh aku duduk disini?”
“Hey,, Chilya. Boleh kok, silahkan saja.” Jawab dicky dengan lembut
“Kakak ngapain disini ?”
“Nganterin ayah aku Check up. Kalo kamu ?”
“Hemmm.... aku gak tau ni disini ngapain... gak boleh pulang sama dokternya, jadi tidur sini deh..J
J ada-ada aja deh kamu. Jelas gak boleh pulang, orang kamu sakid.”
“Aku gak sakid kok kak, orang dokternya aja yang aneh... hehe J
“Bisa aja kamu...”
            Aku pun slalu mempehatikan setiap kata yang di ucapkan kak Dicky. Aku gak mau saat saat seperti ini cepat berakhir. Aku ingin selalu berada di dekatnya dan melihat semua yang ada pada dirinya. Aku benar-benar menginginkan dia untuk yang terakhir kalinya dalam hidup ku..
“Dek...? Kok ngelamun gitu,,,” tanya kak dicky
“ eh eh gak pa pa kok kak. J Oh ya, aku masuk kamar dulu ya kak ? ntar di marahin dokter nie.”
“Iya, hati-hati ya ?”
Sambil mengeluarkan senyuman manisnya
“Iya kak...”
Sungguh aku tak bisa dan tak sanggup untuk meninggalkan senyuman manis itu. Aku sudah benar-benar tak bisa jauh dari dia. Aku cinta dia. Tuhan bantu aku miliki dia....
S
K
I
P      
         
“Tuhan, aku hanya orang biasa yang tahu kapan hidupku akan berakhir. Tuhan aku hanya memohon padamu, berikan aku jalan terbaikmu dan berikanlah aku kekasih hati yang menyayangiku di saat terakhirku. Tuhan, kuingkinkan dia selalu di dekatku. Kak Dicky, I Love You...”
            2 bulan sudah aku melewati semua itu. Dan tak ku sangka aku semakin dekat dengan kak Dicky. Sungguh hal yang sangat aku inginkan slama ini. Namun, tak kukira juga penyakit kanker ku semakin parah. Dokter pun memprediksi bahwa hidupku tak akan lama lagi.

Di rumah sakit...

“kak rafael, besok khan ulang tahun aku yang ke-17. Boleh gak aku minta sesuatu sama kakak.?”
“Boleh kok dek,,”
“Kalo besok aku udah gak ada, kakak janji ya akan slalu inget dan sayang sama aku ?”
“Kok kamu ngomong gitu si dek, kamu tu akan selamanya  kakak sayang. Kamu juga janji jangan ninggalin kakak donk ?”
“Iya kak, aku gak akan ninggalin kakak. Khan aku slalu ada di hati kakak... J
            Malam pun tlah larut dan kini aku pun tlah tertidur di kamar rumah sakid yang sangat sepi bagiku. Saat tengah malam tiba, aku mendengar ada suara kaki yang terseok-seok mendekatiku. Akupun terbangun dan merasa takut. Tak lama kemudian pintu kamar pun terbuka dan terlihat seseorang membawa sebuah kue tart mendekatiku. Dan tak ku sangka, dia adalah Kak Dicky bersama kak Rafael yang membawa sebuah kado di sampingnya... lagu ulang tahun pun di lantunkan oleh mereka....
“happy birthday Chilya sayang... happy sweet seventeenth.” ucap kak rafael sembari memelukku..
“Makasih kakak, Chilya sayang sama kakak....” dengan nada yang cukup lemas
“iya, kakak juga sayang Chilya. Tetep jadi adek terbaik buat kakak ya ?” sambil meneteskan air mata.
“Iya kak...” ikut meneteskan air mata
“Happy birthday ya Chilya...” ucap kak dicky dengan senyuman manisnya.
“Iya kak...” membalas dengan senyuman.
            Aku pun merasa sangat bahagia saat ini. Aku bisa melihat orang-orang yang aku sayangi tersenyum bahagia, walau sebenarnya dalam hati mereka sangat sedih karena keadaanku sekarang. Aku hanyalah seorang anak yang tak berdaya, tubuhku lemah karena semakin lama penyakit kanker ku semakin parah. Hingga aku hanya bisa pasrah dengan hidupku saat ini....
“kak Dicky, bolehkah aku bicara. de dengan mu..?” kata-kataku yang sedikit terbata..
“Boleh Chilya, sangat boleh. Bicaralah...”
“Ka kak, sebener nya aku suka dan sa yang sa ma kakak se jak aku kelas 1. Tapi, aku juga sadar kak, kalo itu semua gak mung kin akan ter jawab. A ku tahu kalo itu cu ma mimpi aku yang ketinggian. Dan itu mem buat aku terjatuh dalam jurang lu ka dalam. Kak, maafin aku udah punya perasaan ini?”  sambil menangis tersedu menahan sakit
“Kamu gak salah chil, justru aku yang salah dan bodoh. Kenapa slama ini aku gak peka sama perasaan kamu...” sesal Dicky..
“chil, kakak sayang dan cinta sama kamu? Kamu mau khan jadi pacar kakak ?”
“Kak, Chilya gak mim pi khan ?”
“Gak Chil, kakak beneran sayang kamu....”
“A ku ma u kak, teri ma ka sih udah ja di yang terakhir un tuk a ku. Memang be nar, cin ta akan in dah pa da wak tu nya..” kata terakhir yang ku ucapkan yang kemudian aku pun terdiam..
            Dicky pun kemudian memelukku dengan eratnya dan takkan melepaskannya lagi. Kak Rafael hanya bisa diam dan menangis melihat itu semua.. Aku pun merasa semua yang ada di sekelilingku sekarang menjadi gelap. Aku tak tau apa yang terjadi, namun yang pasti saat ini aku tlah pergi meninggalkan dunia ini dan terbang menuju surga dan kekal dalam keabadian.. Terimakasih cinta tlah indah pada waktunya....


........................................................END................................................................


by :
ismiterra cahya pradani
@Ca_SbCm

0 Comments:

Post a Comment



By :
Free Blog Templates