Rabu, 25 Desember 2013
Gerimis menghiasi
langit pagi ini. Mendung nampak jelas di pelupuk mata, seperti keadaan gadis
cantik ini. Wajah sedih, pilu, nan penuh duka menghiasinya. Sesa Cantika
tepatnya. Dia terlahir dari keluarga yang sangat sederhana, namun kasih sayang
sangat lengkap menghiasi hidupnya. Namun kini, suasana duka menyelimuti Sesa.
Dia telah kehilangan orang yang sangat dicintainya, ibu kandungnya. Ya, hari
ini adalah hari pemakaman ibu Sesa. Rasa sesal menghinggapi gadis cantik ini.
“Maafkan Sesa, ibu. Sesa belum bisa
mewujudkan cita-cita ibu. Tapi Sesa
janji, Sesa akan mengejar cita-cita itu buat ibu, Sesa pasti lulus kuliah dan
jadi dokter.”, ucap gadis cantik itu sembari memeluk gundukan tanah merah di
hadapannya.
Sesa
memang sangat menyayangi ibunya. Sebelum ibunya meninggal dia selalu menuruti
apa yang ibunya inginkan. Dan kini setelah ibunya telah tiada, Sesa hidup hanya
sebatang kara. Namun, Sesa tak pernah menyesali hidupnya yang seperti ini.
Dalam fikirannya hanya ada satu kata, optimis. Dia akan selalu optimis
menjalani hidupnya dan semangat tanpa menyerah.
Seminggu setelah
kematian ibunya, kini Sesa telah kembali beraktifitas seperti sedia kala. Dia
kembali melakukan aktifitasnya sebagai seorang mahasiswi di universitas yang
cukup terkenal di kotanya, di Bandung. Dan juga sebagai pembantu dokter di
sebuah rumah sakit kecil di kota itu. Dia bekerja disana untuk memperoleh uang,
yang nantinya uang itu digunakan untuk membayar kuliahnya agar lulus menjadi
sarjana dan untuk meneruskan hidupannya.
Pagi
ini Sesa terlihat begitu cantik dan anggun saat menggunakan dress selututnya
beserta rambutnya yang diurai. Kesederhanaan tetap terlihat padanya, meski
penampilannya begitu indah.
“Pagi Sesa ?”, sapa seseorang dari arah
samping saat dia sampai di tempat kerjanya.
“Pagi juga, Dokter Rangga.”, sembari
tersenyum menjawab salam itu.
Dokter
Rangga atau Dokter Rangga Moela Anggara lengkapnya, dia adalah salah satu
dokter yang bekerja di rumah sakit tempat Sesa bekerja. Dokter Rangga merupakan
salah satu dokter yang kerjanya dibantu oleh Sesa. Orangnya baik, murah senyum,
dan juga penyabar.
“Bagaimana keadaan kamu ? Maaf, minggu
kemarin aku tidak bisa lama menemani kamu
di pemakaman ibumu?”, ucap dokter Rangga meminta maaf.
“Iya tidak apa-apa. Aku baik-baik saja
kok, Dok. Oh ya, ini laporanku yang minggu kemarin. Maaf terlambat.”
“Sudahlah, aku bisa mengerti.”, jawab
Dokter Rangga sembari menerima laporan dan tersenyum sangat manis.
Dag dig dug, jantung
Sesa berdegup sangat kencang melihat itu
semua. Sesa terus berfikir karena kebingungan ada apakah sebenarnya yang
terjadi pada jantungnya. Setiap ia menatap senyuman manis Dokter Rangga, selalu
saja jantungnya berdegup tak menentu. Dan dengan spontan pula ia memegang
dadanya.
“Hey, kamu kenapa ? Diam saja dari tadi,
terus kenapa kamu pegang dada kamu ? Kamu sakit ya ?”, tanya Dokter Rangga
panjang lebar dengan nada sedikit khawatir.
“Aku tidak apa-apa, Dok. Cuma ada yang
aneh saja dengan jantungku. Tapi, sudahlah !”, jawab Sesa menghilangkan
kekhawatiran Dokter Rangga.
”Ya sudah kalau kamu tidak apa-apa.”,
lega Dokter Rangga dan kembali tersenyum.
Dokter
Rangga dan Sesa akhirnya pergi dari tempat semula dan berjalan bersama ke ruang
tempat mereka bekerja. Meski posisi kerja mereka berdua sangatlah berbeda jauh.
Dokter Rangga berada di ruang kerja dokter bedah, sedangkan Sesa di ruang
laboratorium membantu kerja petugas disana. Di sisi lain, ada sepasang mata
lekat menatap pertemuan antara Dokter Rangga dan Sesa hingga kepergian mereka.
Mata itu tak henti-hentinya menatap mereka berdua. “Huh, kenapa aku cemburu
lihat mereka !”, kecamuk hati orang itu yang kemudian pergi meninggalkan
tempatnya itu.
Waktu
kini sudah menunjukkan pukul satu siang dan saatnya Sesa harus pergi kuliah
karena ada jam praktek yang menunggunya. Dia pergi ke ruang Dokter Reza untuk
meminta izin pergi kuliah padanya.
“Permisi, Dok. Boleh saya masuk ?”, ucap
Sesa sembari mengetuk pinta ruang Dokter Reza.
“Masuk saja !”, suruh Dokter Reza pada
Sesa. “Ada apa ?”, sambung Dokter Reza.
“Saya mau minta izin mau pergi kuliah,
Dok. Ada praktek hari ini.”
“Baiklah. Pergi saja, saya izinkan. Tapi
ingat, ada tugas yang menanti kamu.”
“Baik, Dok. Kalau begita saya pamit.”,
ucap Sesa sambil pergi meninggalkan ruang itu.
Setelah
beberapa menit melakukan perjalanan ke kampus, akhirnya Sesa telah sampai di
kelas prakteknya. Dia mengikuti praktek itu dengan sungguh-sungguh. Dia sudah
berjanji pada ibunya, jika dia pasti akan lulus kuliahnya tahun ini dan jadi
dokter. Jam praktek pun telah selesai dan kini saatnya Sesa pulang ke rumah.
Dalam perjalanannya, dia masih memikirkan kejadian tadi pagi saat jantungnya
berdegup kencang menatap senyuman Dokter Rangga. “Aku kenapa ya ? Setiap aku melihat
Dokter Rangga senyum, jantungku berdegup kencang ? Apa aku suka Dokter Rangga ?
Ah, gak tahu ah !”, gumam Sesa dalam hati dan segera pergi kembali ke rumah.
*****
Hari
pun telah berlalu, dan kini aktifitas sudah banyak yang menanti Sesa. Tugas
kuliahnya semakin menumpuk dan tugas di tempat kerjanya juga semakin banyak.
Hingga Sesa tak menyadari jika kini kondisi tubuhnya sedikit melemah. Wajah
pucat pasi terlihat jelas pada Sesa. Ketika itu saat Sesa mengerjakan tugasnya
di tempat dimana ia bekerja, ia terlihat
begitu lemah. Sepasang mata pun tak hentinya memperhatikan setiap tingkah Sesa
di rumah sakit. Orang itu tak tega melihat Sesa yang begitu lemah. Hal yang
sama juga terjadi pada hari berikutnya. Sesa terlihat semakin lemah hingga ia
hampir terjatuh, namun pada akhirnya sepasang tangan menahan tubuh Sesa. Dua
pasang mata saling menatap satu sama lain. Dag dig dug, jantung Sesa berdegup
tak menentu menatap mata orang itu, orang yang belum pernah di lihatnya.
“Maaf.”, ucap orang itu melepas
pelukannya dan tersadar dari lamunan yang kemudian membantu Sesa berdiri.
“Terima kasih ?”, ucap Sesa pada orang
itu.
“Sama-sama. Oh ya, aku Dicky salah satu
pasien disini. Kamu Sesa kan ?”, ucap orang itu memperkenalkan dirinya yang
ternyata namanya Dicky.
“Kok kamu tahu nama aku ?”, tanya Sesa
penasaran pada Dicky.
“Gimana aku tidak tahu, aku sering
melihatmu berdua dengan kak Rangga.”, jawab Dicky dengan tertawa.
“Kak ? Maksud kamu, Dokter Rangga itu
kakak kamu ?”, tanya Sesa kaget.
“Iya, dia kakak aku. Aneh kan, kakaknya
dokter tapi adeknya sakit-sakitan.”
“Memang kamu sakit apa ?”, tanya Sesa
kembali, dengan nada penasaran.
“Aku, aku sakit kanker hati stadium
empat. Aku sudah akan mati.”, jawab Dicky dengan nada lesu.
“Hey, kamu kok ngomong begitu ? Jangan
mendahului takdir Tuhan. Kamu semangat aja jalaninya, pasti kamu sembuh kok.”,
ucap Sesa optimis menyemangati Dicky sembari memegang pundaknya.
“Iya, terima kasih ya ? Oh ya, kamu mau
jadi teman aku ?”
“Emm, mau gak ya ?”, ucap Sesa sembari
pura-pura berfikir. Wajah Dicky pun terlihat begitu lesu mendengar jawaban dari
Sesa. Sesa pun hanya tersenyum melihat ekspresi Dicky. “Haha, muka kamu lucu,
Dick ! Aku mau kok jadi temen kamu.”, ucap gadis cantik ini menyambung
perkataan tadi.
“Begitu dong jawabnya dari tadi !”, ucap
Dicky yang kemudian tersenyum manis.
Wajah pucat Sesa
kembali terlihat. Sebelumnya, dia menahan sakit di kepalanya agar tidak
terlihat di mata Dicky. Namun Dicky sudah mengerti sebelumnya pada kondisi Sesa
yang dilihatnya. Hingga akhirnya Sesa tak kuat menahannya yang kemudian
membuatnya jatuh pingsan.
Setelah satu jam berlalu, akhirnya Sesa tersadar dari
pingsannya. Dia mencoba membuka matanya dan melihat pada sekelilingnya.
Terlihat ada dua orang dihadapannya. Orang itu adalah Dokter Rangga dan Dicky.
Sesa pun kembali mencoba bangun dari posisi tidurnya dan berusaha untuk duduk.
“Kenapa saya ada disini, Dok ?”, tanya
Sesa pada Dokter Rangga.
“Tadi kamu pingsan waktu kamu sama
Dicky. Dan Dickylah yang bawa kamu ke ruang ini.”, ucap Dokter Rangga menjelaskan pada Sesa.
“Kalau begitu, terima kasih ya Dick ?”
“Iya sama-sama. Kalau kamu kelelahan,
kamu istirahat saja ? Jangan dipaksa, oke ?”,ucap Dicky sambil memberikan
jempolnya.
“Oke.”, ucap Sesa tersenyum.
Rangga pun hanya dapat
tersenyum melihat tingkah Dicky dan Sesa. Baru kali ini Rangga dapat melihat
adiknya kembali tersenyum, setelah kejadian saat Dicky mengetahui tentang
penyakitnya. Namun, ada rasa cemburu yang hadir mengganggu kebahagiaan Rangga
ketika melihat itu semua, hingga akhirnya Rangga mulai tersadar dari lamunanya.
Dan seketika itu pula, Rangga melihat ada darah keluar dari hidung Dicky.
“Dicky ! Hidung kamu !”, ucap Rangga
yang sontak membuat Dicky dan Sesa kaget yang kemudian Dicky mengusap darah
segar yang keluar itu.
Sesa pun bangun dari ranjangnya dan
mengeluarkan sapu tangan dari kantongnya untuk mengelap darah Dicky yang keluar
cukup banyak itu. Entah apa yang
terjadi, rasa khawatir menghantui fikiran Sesa begitu saja.
“Dicky, kamu kenapa?”, tanya Sesa khawatir.
“Aku gak apa-apa kok. Santai aja, Sa !
Ini udah biasa.”
“Dick, sepertinya kamu harus di scan
lagi. Kakak khawatir kamu tambah parah.”, ucap Dokter Rangga sangat khawatir
pada kondisi Dicky.
“Udahlah, Kak ! Aku gak apa-apa kok.
Udah biasa seperti ini. Udah deh, jangan jadi sedih gitu. Kamu juga, Sa ! Aku
gak suka ekspresi begitu !”, ucap Dicky marah-marah sambil membersihkan
hidungnya.
“Iya, maaf ?”, ucap Sesa polos.
“Ya sudah, aku kembali aja deh ke kamar.
Oh ya, jangan lupa istirahat, Sa ? Kamu juga Kaka Rangga ! Jangan kebanyakan
kerja.”, ucap Dicky sembari pergi meninggalkan ruang tadi. “Aku pasti bisa
dapatkan kamu, Sesa. Meski aku tak akan hidup lama lagi.”, ungkap Dicky dalam
hatinya saat berjalan kembali ke kamar rawatnya.
****
Dua
bulan sudah berlalu dan kini Sesa sudah
semakin dekat dengan Dicky dan juga Rangga. Kuliah Sesa pun akhirnya juga sudah
selesai dan kini dia sudah menjadi seorang sarjana. Dokter Reza, kepala rumah
sakit dimana Sesa bekerja memutuskan untuk mengangkat Sesa menjadi pegawai
tetap di rumah sakit itu. Namun, hal menyedihkan terjadi pada Dicky. Penyakit
kanker hati yang dideritanya semakin parah dan sangat sulit untuk dilakukan
pengobatan. Sesa semakin takut dan khawatir atas kondisi Dicky saat ini. Sesa
sangat menyayangi Dicky, karena dia sudah terlanjur jatuh cinta pada Dicky
meski di sisi lain Sesa tahu jika Dokter Rangga juga mencintainyanya.
Pagi
ini, Sesa telah bersiap-siap untuk berangkat kerja. Sebuah bingkai foto
mengingatkannya pada seseorang yang sangat di cintainya, ibunya. Sesa tersenyum
melihat foto ibunya itu. Dia memeluk erat foto itu yang kemudian meletakkannya
kembali.
“Ibu, Sesa sayang ibu.”, ucap sesa saat
melihat kembali foto itu.
Beberapa menit
kemudian, Sesa pun telah sampai di rumah sakit tempat ia bekerja. Sebelum ia
pergi ke ruang kerjanya, ia mampir dulu ke kamar Dicky. Sesa begitu tersiksa
melihat Dicky yang semakin lama kondisinya semakin lemah. Sesa melihat Dicky
yang sedang tertidur di kasurnya dengan berbagai alat terpasang pada tubuhnya.
“Selamat pagi, Dick ? Bagaimana keadaan
kamu ?”, ucap Sesa menatap lekat wajah Dicky yang akhirnya membuat Dicky
terbangun.
“Pagi juga bidadariku.”, jawab Dicky
menatap Sesa.
“Kamu sudah bangun ? Maaf, aku ganggu
tidur kamu ?”
“Iya, gak apa-apa. Aku senang kamu
ganggu aku.”, jawab Dicky tersenyum jahil.
“Ih, aneh deh. Kamu sudah makan ?”,
tanya Sesa perhatian.
“Belum, aku mau kamu yang suapin aku.”,
pinta Dicky pada Sesa.
“Iya, sini aku suapin !”, sembari
mengambil piring nasi yang ada di sampingnya.
Sesa pun menyuapi Dicky
perlahan. Satu sendok, dua sendok, hingga lima sendok. Dicky hanya makan lima
sendok. Dia sudah tidak kuat makan banyak-banyak sekarang ini.
“Sesa !”, panggil Dicky lirih.
“Iya, ada apa ?”
“Aku sayang kamu. Kamu mau gak jadi yang
terakhir buat aku ?”, tanya Dicky tanpa basa-basi yang sontak membuat Sesa
kaget.
“Aku, aku juga sayang kamu, Dick. Aku
mau jadi yang terakhir buat kamu.”
“Terima kasih, Sesa ?”
“Iya, Dicky.”, ucap Sesa sembari
meneteskan air mata bahagia sekaligus air mata kesedihan.
“Sa ?”, panggil Dicky kembali. “Aku
punya surat buat kamu dan Kak Rangga. Kamu kasih ini ke Kak Rangga ya ? Tapi,
kalian harus buka setelah aku tiada.”, pinta Dicky pada Sesa.
“Maksud kamu apa ? Kamu pasti sembuh.
Kamu pasti bisa kuat !”, ucap Sesa menyemangati Dicky untuk kesekian kalinya.
“Semoga.”, jawab Dicky singkat sambil
melemparkan senyum manisnya.
Waktu
pun telah berlalu, jam pun telah menunjukkan pukul 8 malam. Seusai jam kerja
Sesa selesai, dia kembali ke kamar Dicky untuk merawatnya. Wajah Dicky terlihat
sedikit cerah malam ini dan ada hal aneh pula yang tengah di rasakan Sesa. Ada
hal beda saat ia menatap wajah Dicky.
“Dick, kenapa perasaan aku tidak enak ?
Aku takut Dick, takut kehilangan kamu.”, gemuruh Sesa dalam hatinya.
“Sa ? Kamu kenapa ?”
“Eh, aku tidak apa-apa.”, jawab Sesa
menyembunyikan kekhawatirannya.
“Sa, aku pengen lihat bintang denganmu
sekarang. Kamu mau kan ?”. pinta Dicky pada Sesa.
“Iya.”, angguk Sesa menerima permintaan
Dicky.
Mereka berdua pun keluar kamar dan kemudian
pergi ke sebuah taman di dalam lingkungan rumah sakit. Bintang begitu terlihat
jelas dari sana. Dicky dan Sesa duduk berdua di sebuah bangku sambil menatap
langit. Di sisi lain, Rangga hanya dapat menatap mereka pilu. Kesedihan nampak
jelas pada wajah Rangga. Dia mencoba merelakan Dicky.
“Sa, indah ya bintangnya ?”
“Iya, Dick. Indah banget.”, jawab Sesa
yang kemudian air matanya menetes dengan sendirinya.
“Sa, aku pengen jadi seperti
bintang-bintang itu. Aku pengen kalau aku sudah tiada, kamu masih bisa
melihatku di langit bersama bintang-bintang itu.”
Tes, air mata semakin deras mengalir di
pipi Sesa. Dia semakin sedih mendengar perkataan Dicky yang begitu menyayat
hatinya.
“Sa, kamu janji akan ingat aku kan ? Aku
mau kejujuranmu.”, pinta Dicky pada Sesa.
“Iya, aku janji Dick. Aku gak akan lupa
sama kamu. Aku pasti ingat kamu, selamanya.”, jawab Sesa yang tak hentinya
menangis.
“Sa, aku mau tidur di pundak kamu. Boleh
kan ?”
“Iya, Dick. Kamu tidur saja. Aku akan
jagain kamu.”, ucap Sesa bergetar takut.
“Aku sayang kamu.”, ucap Dicky sebelum
memejamkan matanya. Terpejam, ya, mata Dicky kini sudah terpejam. Bukan untuk
sementara, tapi untuk selamnya. Dicky telah pergi. Dicky telah tenang dan
terlepas dari beban berat hidupnya di dunia ini. Dicky telah terbang dan
bergabung bersama bintang-bintang yang telah dia impikan di langit itu. Ya,
Dicky sudah tenang. Dia telah bahagia.
Sedih,
menangis, kecewa, kehilangan, itu yang sedang Sesa rasakan. Dia sudah
kehilangan orang yang dicintainya untuk kedua kalinya. Dari ibunya yang
sebelumnya telah pergi, dan sekarang Dicky yang telah pergi menyusul. Hanya
satu doa yang ia panjatkan untuk mereka. Ia meminta agar orang yang ia sayangi
selalu di lindungi dan diberi kebahagiaan disisiNya.
Pagi
telah tiba dan pemakaman Dicky telah di laksanakan. Sesa kembali melihat
gundukkan tanah merah di hadapannya. Jenazah Dicky sudah ada di dalamnya. Hanya
ada taburan bunga dan sebuah nisan bertuliskan nama Dicky di atas gundukkan
tanah itu. Sesa teringat akan surat yang diberikan Dicky padanya dan juga pada
Rangga. Mereka berdua membuka surat itu bersama yang ternyata inti dari surat
mereka berdua itu sama. Surat itu berisi tentang keinginan Dicky untuk meminta
Rangga sebagai penggantinya melindungi Sesa. Dicky menginginkan Sesa dan Rangga
bersatu. Dengan surat itu, akhirnya mereka berdua pun mengabulkan keinginan
Dicky. Sesa dan Rangga akhirnya bersatu demi tenangnya Dicky di alam sana. “Aku
pasti akan menjaga Sesa, Dick ! Aku janji !”, ucap Rangga dalam hatinya sembari
menatap makam Dicky dan kemudian menggenggam erat tangan Sesa. Sesa hanya dapat
diam dan merelakan semuanya berjalan adanya.
~Selesai~
By :
Ismiterra Cahya Pradani
@Ca_SbCm
0 Comments:
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)

